ISTANBUL — Jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu, (8/7/2026) hanya mencapai 14 unit. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Amerika Serikat dan Iran menyepakati perjanjian sementara pada pertengahan Juni 2026 lalu.
Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz melambat hingga nyaris terhenti pada Kamis, (9/7/2026) setelah serangan terbaru Amerika Serikat (AS) ke Iran serta kembali terjadinya serangan terhadap kapal-kapal komersial mengguncang kepercayaan terhadap keamanan jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Berdasarkan data pelacakan kapal, pergerakan kapal yang masih terpantau sebagian besar hanya melalui jalur yang disetujui Iran di sisi utara Selat Hormuz. Sementara itu, koridor pelayaran yang didukung Amerika Serikat melalui wilayah Oman dilaporkan relatif sepi dari aktivitas.
Di antara kapal-kapal berukuran besar, hanya terlihat sebuah supertanker yang dikenai sanksi oleh AS keluar dari Teluk Persia serta sebuah kapal kontainer berbendera Iran melintasi perairan tersebut. Data pelayaran publik mengidentifikasi kapal kontainer tersebut sebagai Touska yang sedang berlayar di Selat Hormuz dengan bendera Iran.
Perlambatan lalu lintas ini menjadi pembalikan drastis setelah sempat terjadi pemulihan aktivitas pelayaran pasca-kesepakatan sementara antara AS dan Iran pada pertengahan Juni lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya memungkinkan Selat Hormuz kembali dibuka sehingga pengiriman komoditas yang sempat tertunda mulai bergerak keluar dari kawasan Teluk.
Data perusahaan analisis pelayaran Kpler yang dikutip Bloomberg menunjukkan hanya 14 kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz ke dua arah pada Rabu. Angka itu menjadi yang terendah sejak tercapainya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran.
Sebagai perbandingan, rata-rata kapal pengangkut komoditas yang melintas mencapai 34 kapal per hari dalam tiga pekan setelah kesepakatan tersebut, bahkan sempat memuncak hingga 59 kapal pada 24 Juni.
Gangguan terbaru dipicu oleh gelombang serangan baru terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz, termasuk kapal pengangkut gas alam cair (LNG) asal Qatar dan kapal tanker minyak yang terkait dengan Arab Saudi. Insiden tersebut mendorong Washington melancarkan serangan baru terhadap sejumlah target di Iran.
Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir.
Pergerakan kapal tanker LNG melalui Selat Hormuz hingga kini masih terhenti. Meski demikian, dua kapal tanker kosong dilaporkan telah memasuki Teluk Oman dan bergerak menuju pintu masuk timur Selat Hormuz.
Laporan pelacakan kapal juga menunjukkan sejumlah kapal terdampak gangguan keamanan tersebut. Di antaranya kapal LNG yang dikendalikan QatarEnergy, yakni Al Ghariya, Duhail, dan Al Ruwais, yang memilih berbalik arah sebelum memasuki Selat Hormuz.
Selain itu, kapal tanker minyak mentah berkapasitas sangat besar (VLCC) berbendera India Lila Vadinar, yang mengangkut minyak mentah dari Kuwait, juga tercatat memutar balik di lepas pantai Oman.
Di sisi lain, beberapa kapal tanker minyak mentah lainnya seperti Mercury Hope, Tenjun, dan Pertamina Pride berhasil keluar dari Selat Hormuz pada awal pekan ini meski situasi keamanan di kawasan terus memburuk.
Gangguan lain juga terdeteksi berupa interferensi elektronik di Teluk Oman. Sistem pelacakan menunjukkan sejumlah kapal tampak bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar di sekitar perairan Oman. Anomali tersebut diduga mengindikasikan adanya gangguan terhadap sinyal navigasi yang dapat memengaruhi keakuratan data pelacakan kapal.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Menurut International Energy Agency (IEA), sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak melintasi selat tersebut setiap hari sepanjang 2025, atau sekitar 25 persen dari total perdagangan minyak dunia yang diangkut melalui jalur laut.
IEA juga mencatat sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) dari Qatar dan Uni Emirat Arab bergantung pada jalur ini. Karena itu, setiap gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas pasokan energi serta harga minyak dan gas di pasar global. (Sumber: Anadolu)











