Gempa Dahsyat Venezuela: 920 Tewas, 50 Ribu Orang Hilang, Dunia Kirim Bantuan

Foto: Kantor Berita Xinhua.

VENEZUELA – Dampak dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni terus bertambah parah. Hingga Jumat (26/6), pemerintah Venezuela melaporkan sedikitnya 920 orang meninggal dunia, 3.360 orang mengalami luka-luka, sementara lebih dari 50.000 warga masih dinyatakan hilang. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring operasi pencarian dan penyelamatan yang masih berlangsung di berbagai wilayah terdampak.

Lonjakan jumlah korban menggambarkan besarnya skala bencana yang melanda negara Amerika Selatan itu. Banyak kawasan masih tertutup reruntuhan bangunan sehingga menghambat akses tim penyelamat untuk menjangkau lokasi-lokasi yang diduga masih terdapat korban selamat maupun korban meninggal dunia.

Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez, mengatakan jumlah korban tewas hampir dua kali lipat dibandingkan laporan sebelumnya. Menurutnya, proses evakuasi terus dilakukan, namun kerusakan infrastruktur dan sulitnya akses menuju daerah terdampak menjadi tantangan terbesar di lapangan.

Pelaksana Tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan pemerintah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk mempercepat penyelamatan para korban.

“Kami akan berupaya semaksimal mungkin berpacu dengan waktu demi menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa,” ujar Delcy Rodríguez.

Ia mengatakan tim pencarian dan penyelamatan dari berbagai negara mulai berdatangan ke Venezuela untuk membantu operasi kemanusiaan, terutama di Negara Bagian La Guaira yang menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerusakan paling parah.

Di lapangan, proses evakuasi masih menghadapi banyak hambatan. Sejumlah laporan dari warga dan relawan menyebutkan banyak lokasi belum dapat dijangkau akibat jalan yang terputus, tumpukan puing bangunan, serta minimnya alat berat. Kondisi tersebut memaksa warga melakukan pencarian korban secara mandiri dengan peralatan seadanya.

Di sejumlah titik bencana, warga bergotong royong menggali reruntuhan menggunakan tangan kosong untuk mencari anggota keluarga maupun tetangga yang masih tertimbun bangunan.

Para pengamat internasional menilai besarnya dampak gempa turut memperlihatkan lemahnya kapasitas tanggap darurat Venezuela. Krisis ekonomi dan sosial yang berlangsung selama bertahun-tahun disebut telah mengurangi kemampuan negara dalam menghadapi bencana berskala besar.

Selain itu, berkurangnya tenaga kesehatan dan tenaga profesional akibat migrasi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir membuat sistem pelayanan kesehatan kesulitan menangani lonjakan korban. Banyak rumah sakit dilaporkan kewalahan menerima pasien, sementara kebutuhan obat-obatan, peralatan medis, dan tenaga kesehatan terus meningkat.

Sejumlah pakar juga menilai minimnya investasi jangka panjang pada infrastruktur publik, sistem mitigasi bencana, dan layanan darurat telah memperburuk dampak gempa. Akibatnya, respons terhadap bencana tidak dapat dilakukan secara optimal di banyak wilayah.

Hingga kini, operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung dalam kondisi yang sangat berat. Banyak kawasan mengalami kerusakan total, sementara gempa susulan terus terjadi dan meningkatkan risiko bagi petugas penyelamat maupun warga yang masih bertahan di sekitar lokasi bencana.

Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tom Fletcher, mengatakan fokus utama saat ini adalah mempercepat pencarian korban di wilayah yang paling terdampak. Menurutnya, komunitas internasional terus meningkatkan bantuan kemanusiaan untuk membantu Venezuela menghadapi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah modern negara tersebut.

Dukungan internasional terus mengalir. Komisi Eropa mengumumkan bahwa Uni Eropa mengoordinasikan pengiriman bantuan darurat dari delapan negara anggotanya, yakni Republik Ceko, Spanyol, Italia, Prancis, Luksemburg, Jerman, Portugal, dan Belanda.

Melalui Mekanisme Perlindungan Sipil Uni Eropa, lebih dari 520 personel penyelamat telah dikerahkan ke Venezuela. Italia mengirimkan tim medis untuk memperkuat pelayanan kesehatan darurat, sedangkan Luksemburg menyediakan peralatan telekomunikasi, tempat penampungan sementara, serta pasokan listrik darurat bagi masyarakat terdampak.

Selain mengirimkan personel, Uni Eropa juga mengaktifkan sistem satelit Copernicus dalam status darurat untuk membantu pemetaan wilayah terdampak, mendukung operasi pencarian dan penyelamatan, serta mempercepat penilaian kerusakan. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan Uni Eropa siap menambah dukungan apabila situasi di lapangan memerlukannya.

Solidaritas juga datang dari kawasan Amerika Latin. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan pemerintahnya terus berkoordinasi dengan Venezuela dan siap mengirimkan bantuan kemanusiaan tambahan apabila dibutuhkan.

Sebelumnya, Meksiko telah mengirimkan tiga pesawat kargo yang membawa bantuan logistik serta 261 personel gabungan dari Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Garda Nasional. Seluruh personel tersebut kini diterjunkan untuk memperkuat operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah-wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.

Dengan lebih dari 50 ribu warga yang masih belum diketahui keberadaannya, pemerintah Venezuela bersama tim penyelamat internasional kini berpacu melawan waktu untuk menemukan korban yang masih dapat diselamatkan. Di tengah besarnya tantangan di lapangan, harapan masih terus dijaga agar semakin banyak penyintas berhasil ditemukan dari balik reruntuhan bangunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page