WaraNews.id — Arsitek muda asal Toraja, Ar. Jhon Pariama Pabuntang, IAI, berhasil menembus panggung nasional setelah terpilih sebagai salah satu dari enam arsitek muda perwakilan Sulawesi Selatan dalam ajang arsitektur terbesar di Indonesia, ARCH:ID 2026.
Festival arsitektur tahunan yang diinisiasi oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ini digelar pada 23–26 April 2026 di ICE BSD City. Partisipasi Jhon menjadi bukti bahwa talenta arsitek muda dari daerah mampu bersaing dan menunjukkan gagasan arsitektur berbasis lokalitas di tingkat nasional.
Dalam pameran tersebut, Jhon mempresentasikan karya desain Gedung Gereja Toraja Jemaat Padang Katapi yang berlokasi di wilayah Kabupaten Luwu. Proyek yang saat ini masih dalam tahap pembangunan itu menampilkan perpaduan antara pendekatan arsitektur kontemporer dengan nilai-nilai budaya Toraja yang khas.
Menurut Jhon, desain bangunan gereja tersebut tidak sekadar memindahkan bentuk tradisional ke dalam bangunan modern, tetapi berupaya menghidupkan kembali nilai-nilai lokal dalam fungsi ruang yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
“Desain ini bukan sekadar pemindahan bentuk fisik tradisional ke bangunan modern, melainkan upaya menghidupkan kembali esensi nilai lokal dalam fungsi ruang yang baru,” ujarnya.
Konsep utama dalam desain tersebut menitikberatkan pada reinterpretasi struktur tradisional Toraja yang adaptif terhadap lingkungan, namun diterapkan dengan material dan teknologi konstruksi modern. Selain itu, bangunan dirancang responsif terhadap iklim tropis melalui optimalisasi sirkulasi udara alami dan pencahayaan, sehingga menciptakan ruang ibadah yang nyaman dan efisien energi.
Pendekatan visual juga menjadi perhatian penting dalam desain ini. Detail arsitektural yang terinspirasi dari ornamen lokal digunakan secara subtil untuk menghadirkan identitas budaya yang kuat tanpa menghilangkan kesan modern.
Kehadiran Jhon bersama lima arsitek muda lainnya dari Sulawesi Selatan dalam ARCH:ID 2026 membawa misi memperlihatkan bahwa arsitektur dari luar Pulau Jawa memiliki kualitas dan inovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional. Mereka juga menunjukkan keberanian dalam mengeksplorasi konteks budaya lokal sebagai sumber inspirasi desain.
Partisipasi tersebut diharapkan dapat menginspirasi generasi arsitek muda, khususnya di kawasan Indonesia Timur, untuk terus menggali potensi budaya daerah dan menerjemahkannya dalam bahasa arsitektur yang relevan secara global.
Ar. Jhon Pariama Pabuntang merupakan arsitek yang berbasis di Makassar dan Toraja serta pendiri firma arsitektur Kinawa Architects. Ia dikenal dengan pendekatan desain tropis, modern, serta responsif terhadap konteks sosial dan budaya lokal, dengan komitmen mendorong praktik arsitektur yang berkelanjutan di Sulawesi Selatan.











