WaraNews.id — Semangat toleransi, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan oleh sejumlah organisasi kepemudaan di Kelurahan Tamalanrea Jaya melalui kegiatan Aksi Bersih dan Moderasi Beragama yang digelar pada Selasa (16/6/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 11.00 WITA ini melibatkan pemuda dari berbagai latar belakang organisasi, agama, suku, dan budaya.
Empat organisasi yang terlibat dalam kegiatan tersebut yakni Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) Jemaat Bukit Tamalanrea, Persekutuan Mahasiswa Kristen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin (FAPERTAHUT), Himpunan Mahasiswa Gizi Institut Nani Hasanuddin (HIMAGI), serta Ikatan Pelajar Mahasiswa Tolikara (IPMT) Makassar.
Kegiatan diawali dengan berkumpulnya seluruh peserta di Gereja Toraja Jemaat Bukit Tamalanrea. Dari lokasi tersebut, peserta kemudian bergerak melakukan aksi bersih di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan IV dan Jalan Poros Kowilhan, Kelurahan Tamalanrea Jaya. Tidak hanya membersihkan fasilitas umum, para peserta juga melakukan kerja bakti di lingkungan Masjid Jihadul Awwalin sebagai bentuk nyata penerapan nilai moderasi beragama dan penghormatan terhadap keberagaman.
Pelaksanaan kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja masing-masing organisasi. PPGT Jemaat Bukit Tamalanrea dan FAPERTAHUT menjalankan program aksi bersih lingkungan bersama, sedangkan HIMAGI mengusung program moderasi beragama yang diwujudkan melalui aksi bersih di salah satu rumah ibadah. Dalam pelaksanaannya, ketiga organisasi tersebut turut mengajak IPMT Makassar untuk berpartisipasi sebagai bentuk kolaborasi lintas organisasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kegiatan ini dapat terlaksana berkat komunikasi dan koordinasi yang terjalin dengan baik di antara keempat organisasi. Melalui sejumlah diskusi dan pertemuan sebelumnya, seluruh pihak sepakat untuk bersinergi menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Aksi tersebut juga mendapat dukungan dan pendampingan dari Ketua RT wilayah Kowilhan serta dihadiri oleh para pengurus dari masing-masing organisasi.
Ketua PPGT Jemaat Bukit Tamalanrea, Mikael Salenda, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh organisasi yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
“Saya selaku Ketua PPGT Jemaat Bukit Tamalanrea mewakili teman-teman pengurus menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih kepada seluruh kawan-kawan dari tiga organisasi yang telah terlibat sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan yang dimulai dari para pemuda dan dilaksanakan bersama beberapa organisasi kepemudaan yang ada,” ujarnya.
Menurut Mikael, perbedaan latar belakang yang dimiliki setiap organisasi justru menjadi kekuatan untuk membangun kerja sama yang lebih besar di masa depan.
“Meskipun kita berbeda, hal itu bukan penghalang untuk datang bersama dan mengerjakan tugas bersama. Sebaliknya, perbedaan ini menjadi kekuatan bagi kita untuk terus melaksanakan berbagai kegiatan di masa mendatang, sekaligus menjadi kekuatan bagi Kota Makassar. Hari ini ada empat organisasi yang hadir melakukan aksi bersih dan moderasi beragama. Harapan kami, kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi menjadi awal dan contoh bagi organisasi kepemudaan lainnya di Makassar, bahkan dapat melibatkan lebih banyak organisasi dalam skala yang lebih besar ke depannya,” tambahnya.
Senada dengan itu, Ketua IPMT Makassar, Kion, mengaku bersyukur organisasinya dapat dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kolaborasi lintas organisasi seperti ini menjadi langkah penting dalam memperkuat solidaritas antarpemuda.
“Kami bersyukur dapat dilibatkan dalam kegiatan ini dan sangat berterima kasih karena diajak untuk bersama-sama melaksanakan kegiatan yang positif. Agenda ini merupakan bentuk dukungan terhadap upaya membangun solidaritas dan persaudaraan antarpemuda. Harapan kami, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga hubungan yang telah terjalin tidak berhenti pada hari ini saja, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas dalam berbagai bidang sosial, kemasyarakatan, dan kemanusiaan,” katanya.
Sementara itu, Ketua FAPERTAHUT Universitas Hasanuddin, Simson Panjaitan, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong di kalangan generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran pemuda akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membangun semangat gotong royong. Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan dan kerja sama antarpemuda dari berbagai latar belakang,” ungkap Simson.
Setelah menyelesaikan aksi bersih di sejumlah titik, seluruh peserta kembali ke Gereja Toraja Jemaat Bukit Tamalanrea untuk beristirahat dan membersihkan diri. Suasana keakraban semakin terasa saat para peserta dan pengurus organisasi berkumpul menikmati kopi, teh, serta makanan ringan yang telah disediakan panitia.
Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan untuk saling mengenal lebih dekat, berbagi pengalaman, bertukar gagasan, dan mendiskusikan berbagai program yang berpotensi dilaksanakan bersama di masa mendatang. Diskusi yang berlangsung santai namun penuh makna itu menjadi sarana mempererat hubungan antarpemuda dari berbagai latar belakang.
Melalui kegiatan ini, para peserta merasakan secara langsung pentingnya nilai-nilai pluralisme dan moderasi beragama. Keberagaman agama, suku, ras, budaya, maupun organisasi tidak menjadi penghalang untuk saling menghargai dan bekerja sama. Sebaliknya, perbedaan tersebut menjadi modal sosial yang memperkuat persatuan dan kebersamaan.
Seluruh peserta berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun dan memperkuat tali persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk. Semangat kolaborasi yang terjalin diharapkan terus berkembang dan menjadi contoh positif bagi generasi muda dalam menjaga persatuan, toleransi, serta kerukunan, khususnya di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan.
“Berbeda bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi dalam membangun kehidupan yang harmonis dan penuh persaudaraan.”











