Di Balik Pelaksanaan TKA, Infrastruktur Digital Masih Belum Merata

Ilustrasi.

WaraNews.id — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) mulai memunculkan temuan serius di lapangan. Evaluasi yang dilakukan Komisi X DPR RI mengungkap kesenjangan digital masih menjadi hambatan utama, bahkan di wilayah yang selama ini dianggap memiliki infrastruktur memadai.

Temuan tersebut mencuat setelah kunjungan kerja spesifik di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, pada Jumat (17/04/2026). Dari hasil pemantauan langsung, anggota Komisi X DPR RI, Lita Machfud Arifin, menyebut persoalan digital bukan hanya dialami daerah tertinggal, tetapi juga muncul di kota-kota besar.

“Permasalahan yang muncul hampir sama di berbagai daerah, terutama kesenjangan digital. Bahkan di wilayah yang relatif maju seperti Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, persoalan ini masih terjadi,” ungkapnya.

Fakta Lapangan: Infrastruktur Belum Merata

Di balik pelaksanaan TKA yang disebut sebagai langkah modernisasi sistem evaluasi pendidikan, sejumlah persoalan mendasar mulai terkuak. Keterbatasan perangkat, jaringan internet yang tidak stabil, hingga minimnya kesiapan teknis menjadi masalah yang berulang di berbagai wilayah.

Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah, terutama dalam memastikan kesiapan infrastruktur digital secara merata sebelum pelaksanaan TKA berikutnya pada 2027.

Sejumlah pihak di daerah bahkan mengaku belum sepenuhnya memahami mekanisme pelaksanaan tes. Informasi mengenai uji coba atau try out TKA dinilai belum tersampaikan secara luas kepada sekolah dan pemangku kepentingan di daerah.

“Tadi disampaikan ada sosialisasi, termasuk semacam try out. Namun, kami sendiri baru mengetahui hal tersebut hari ini. Ini menunjukkan sosialisasi masih sangat terbatas,” ujar Lita.

Di lapangan, persoalan tidak hanya menyangkut perangkat dan jaringan. Kesiapan mental peserta didik juga menjadi sorotan.

Kurangnya pemahaman tentang tujuan TKA disebut berpotensi memunculkan kecemasan di kalangan siswa. Banyak peserta didik yang belum mengetahui bahwa TKA tidak memengaruhi kelulusan, sehingga rasa takut justru menghambat kemampuan mereka saat menghadapi tes.

“Jangan sampai anak-anak yang sebenarnya mampu justru tidak maksimal karena sudah merasa takut terlebih dahulu,” tegasnya.

Guru dan Orang Tua Ikut Terdampak

Investigasi di berbagai daerah juga menunjukkan peran guru dan orang tua menjadi faktor krusial dalam kesiapan pelaksanaan TKA.

Guru diharapkan memahami mekanisme tes lebih dulu agar dapat memberikan simulasi dan pendampingan yang tepat kepada siswa. Namun di sejumlah wilayah, pelatihan bagi tenaga pendidik dinilai masih belum merata.

Di sisi lain, keterbatasan keluarga menjadi tantangan tersendiri, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Banyak orang tua belum memiliki perangkat teknologi seperti komputer atau laptop yang menjadi kebutuhan dasar dalam pelaksanaan tes berbasis digital.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kesenjangan digital tidak hanya soal jaringan internet, tetapi juga menyangkut kemampuan ekonomi keluarga.

Evaluasi Awal, Ujian Besar Menanti 2027

Meski berbagai catatan kritis muncul, pelaksanaan TKA perdana tetap dinilai sebagai langkah awal yang penting. Evaluasi yang tengah dilakukan saat ini diharapkan menjadi pijakan dalam memperbaiki sistem sebelum pelaksanaan berikutnya.

Komisi X DPR RI menilai, tanpa pembenahan menyeluruh mulai dari infrastruktur digital, sosialisasi, hingga kesiapan mental siswa TKA berisiko menciptakan kesenjangan baru dalam dunia pendidikan.

Namun dengan evaluasi yang terus berjalan, DPR optimistis pelaksanaan TKA pada 2027 dapat berlangsung lebih matang dan merata.

“Kami optimistis pelaksanaan TKA pada 2027 akan jauh lebih baik seiring evaluasi yang terus dilakukan,” tutup Lita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *