Dari Kamar Kost ke Meja Perawatan, Kepedulian untuk Nenek Haisah Menggerakkan Banyak Pihak

Idul, Bendahara JMSI Lutim mengunjungi rumah kost Nenek Haisah,Minggu (9/8/2026).

MALILI — Di sebuah kamar kost sederhana di kawasan sekitar SD Lagaroang, Desa Baruga, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Nenek Haisah (69) lebih banyak menghabiskan hari dengan berbaring. Tubuhnya yang semakin lemah membuat perempuan lanjut usia itu tak lagi mampu beraktivitas seperti kebanyakan orang seusianya.

Selama kurang lebih lima tahun, Haisah hidup dengan penyakit gondok beracun yang terus menggerogoti kondisi fisiknya. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia hanya tinggal bersama anak tunggalnya, Raisah. Tanpa pekerjaan dan penghasilan tetap, kebutuhan makan sehari-hari saja menjadi persoalan yang harus mereka hadapi, terlebih untuk mendapatkan pengobatan yang layak.

Kondisi itulah yang kemudian mengetuk kepedulian para pengurus Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Luwu Timur bersama jajaran Sat-Intel Polres Luwu Timur.

Minggu (9/8/2026), mereka mendatangi langsung tempat tinggal Haisah. Bukan sekadar membawa kamera dan catatan, kedatangan tersebut juga disertai bantuan bahan pokok dan kebutuhan harian untuk membantu Haisah dan Raisah bertahan di tengah keterbatasan.

Kunjungan itu berlangsung sederhana. Namun, dari sebuah kamar kost yang sempit, muncul cerita tentang bagaimana kepedulian sosial tidak harus menunggu sebuah persoalan menjadi besar untuk kemudian ditangani.

Bagi Haisah dan anaknya, bantuan yang diberikan mungkin tidak menyelesaikan seluruh persoalan yang mereka hadapi. Tetapi bagi Raisah, perhatian tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.

“Bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi kami untuk makan sehari-hari dan perawatan Ibu,” ujar Raisah saat menerima kunjungan tersebut.

Pengurus JMSI Luwu Timur mengunjungi dan membawa sembako ke rumah kost Nenek Haisah.

Di titik inilah aksi sosial JMSI dan kepolisian tidak berhenti pada pemberian bantuan. Kondisi Haisah yang membutuhkan penanganan kesehatan segera kemudian menjadi informasi penting yang diteruskan kepada Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Dinas Kesehatan.

Sehari setelah kunjungan tersebut, Senin (10/8/2026), respons pemerintah daerah bergerak cepat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Timur, Dr. Helmy Kahar, didampingi Kepala Puskesmas Malili, Kiki Febriani, S.Kep., Ns., turun langsung menemui Haisah. Tim medis dari Dinas Kesehatan bersama Puskesmas Malili datang membawa ambulans dan perlengkapan medis untuk melakukan penanganan sekaligus mengevakuasi pasien.

Gerak cepat itu menunjukkan bahwa sebuah informasi yang lahir dari kepedulian masyarakat dapat menjadi pintu masuk bagi pelayanan pemerintah.

Petugas medis tampak melakukan pemeriksaan dan pendampingan secara hati-hati sebelum Haisah dievakuasi menuju ambulans Puskesmas Malili. Kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut sehingga pasien kemudian dirujuk ke RS I Lagaligo Wotu untuk mendapatkan perawatan medis intensif dan pendampingan dokter.

Bagi Dinas Kesehatan Luwu Timur, penanganan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan warga yang berada dalam kondisi rentan tidak luput dari pelayanan kesehatan.

Petugas Kesehatan dari Dinas Kesehatan Luwu Timur membawa Nenek Haisah ke Puskesmas Malili untuk mendapatkan perawatan.

“Kami mengapresiasi kolaborasi dan informasi dari rekan-rekan JMSI serta jajaran Sat-Intel Polres Luwu Timur. Begitu mendapat laporan hasil kunjungan kemarin, kami langsung berkoordinasi dengan Puskesmas Malili untuk melakukan penjemputan dan menyiapkan tindakan medis lanjutan bagi pasien,” kata Dr. Helmy di lokasi penjemputan.

Ketika Informasi Berubah Menjadi Tindakan

Kisah Haisah memperlihatkan satu hal sederhana, bahwa kepedulian sosial memiliki kekuatan ketika tidak berhenti pada rasa iba.

JMSI Luwu Timur hadir melalui fungsi sosial insan pers, Sat-Intel Polres Luwu Timur ikut memastikan informasi kondisi warga tersampaikan, sementara Dinas Kesehatan bersama Puskesmas Malili menerjemahkan informasi tersebut menjadi tindakan pelayanan kesehatan.

Rangkaian itu berlangsung hanya dalam hitungan sehari.

Dari sebuah kunjungan sosial, lahir laporan mengenai kondisi kesehatan seorang lansia. Dari laporan itu, pemerintah daerah bergerak melakukan peninjauan, menyiapkan armada medis, menjemput pasien, hingga memastikan Haisah mendapatkan akses perawatan lanjutan.

Bagi keluarga, respons tersebut bukan sekadar prosedur pelayanan. Ada rasa lega setelah bertahun-tahun menghadapi kondisi kesehatan dengan segala keterbatasan.

Keluarga Haisah menyampaikan terima kasih kepada JMSI, kepolisian, dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang telah memberi perhatian serta merespons kondisi tersebut secara cepat.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan sosial dan kesehatan masyarakat tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit untuk dimulai. Kadang, semuanya berawal dari keberanian untuk datang, melihat langsung kondisi warga, mendengar keluhannya, lalu memastikan informasi itu sampai kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk bertindak.

Bagi Haisah, perjalanan menuju perawatan medis itu mungkin hanya sebuah perpindahan dari kamar kost menuju rumah sakit. Namun bagi banyak pihak yang terlibat, langkah tersebut menjadi bukti bahwa ketika media, kepolisian, pemerintah dan masyarakat bergerak dalam satu kepedulian, sebuah persoalan yang semula nyaris tak terlihat dapat berubah menjadi perhatian bersama.

Dan di tengah keterbatasan yang masih membelenggu Haisah dan Raisah, perhatian itu menjadi harapan baru, bahwa mereka tidak sepenuhnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *