FLORES — Bukan hanya kerusakan bangunan yang menjadi perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi geografis Flores yang berbukit dan sejumlah permukiman yang sulit dijangkau dari jalur darat menjadi tantangan lain dalam penanganan pascabencana.
Untuk memastikan bantuan dapat menjangkau warga terdampak, BNPB melakukan survei udara pada hari ketujuh setelah gempa, Jumat (21/8). Helikopter dikerahkan menyisir wilayah dari Labuan Bajo, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada hingga Nagekeo.
Dari udara, Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari memetakan kondisi lanskap sekaligus melihat langsung akses menuju sejumlah permukiman yang berada di kawasan perbukitan.
Survei tersebut tidak sekadar mendokumentasikan dampak bencana. BNPB juga menggunakan pemantauan udara untuk mencocokkan laporan masyarakat dan pemerintah kabupaten mengenai kondisi di lapangan, termasuk informasi mengenai titik pesisir yang dilaporkan mengalami landaan tsunami.
“Ini kita lakukan mapping, sudah selesai kita lakukan, kita berangkat dari Labuan Bajo, kemudian pesisir utara, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, hingga Nagekeo,” ujar Abdul Muhari.
Helikopter diterbangkan pada ketinggian sekitar 25 hingga 30 meter dari permukaan tanah. Ketinggian tersebut memungkinkan tim melihat kondisi daratan secara lebih jelas, mulai dari kawasan pesisir hingga permukiman yang berada di wilayah perbukitan.
BNPB kemudian mengambil rangkaian foto udara untuk membangun gambaran utuh mengenai wilayah terdampak. Data visual tersebut menjadi bagian dari proses pemetaan sebelum pemerintah menentukan langkah penanganan berikutnya.
“Kita buat foto secara singkat, secara rangkaian supaya nanti kita bisa melihat secara utuh kawasan terdampak dari kawasan pesisir hingga daratan,” katanya.
Namun, salah satu temuan penting dari survei udara tersebut berkaitan dengan persoalan akses. Sejumlah warga yang tinggal di puncak bukit berada di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pengangkut bantuan.
Kondisi geografis itu membuat distribusi logistik melalui jalur darat tidak selalu menjadi pilihan paling efektif. BNPB pun mulai mengidentifikasi titik-titik yang memungkinkan digunakan sebagai lokasi penurunan bantuan menggunakan helikopter.
“Kondisi seperti ini tentu cukup sulit jika dikejar dengan truk logistik atau mobil angkut yang membawa bantuan hingga 1 ton. Jadi ini untuk daerah-daerah ini akan kita optimalkan dengan dropping logistik via udara,” ujar Abdul Muhari.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan penanganan pascagempa di Flores tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan logistik, tetapi juga bagaimana bantuan menembus kondisi geografis yang membatasi akses darat.
Di sisi lain, survei udara juga digunakan BNPB untuk melihat kembali dampak tsunami yang mengikuti gempa 15 Agustus 2026.
Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan pemantauan dari udara, dampak tsunami secara umum tergolong minor. Meski demikian, terdapat sejumlah lokasi dengan karakteristik topografi tertentu yang berpotensi memperkuat gelombang.
“Sekali lagi dampak tsunami itu minor,” katanya.
Menurut dia, kawasan yang memiliki cekungan dan teluk tertentu menjadi lokasi yang perlu mendapat perhatian karena karakteristik geografisnya dapat menyebabkan amplifikasi gelombang. Beberapa permukiman warga berada di sekitar wilayah tersebut.
Dari hasil pengamatan udara, rumah yang berpotensi terdampak landaan tsunami memang ditemukan. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi secara luas di seluruh kawasan pesisir.
“Yang sifatnya hamparan, kita melihat hanya di dua titik. Itu di posisi Riung dan perbatasan antara Riung dan Nagekeo,” jelasnya.
BNPB melihat kawasan hamparan yang terdampak tersebut sebagian besar bukan merupakan permukiman padat. Area tersebut lebih banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai tambak, sehingga dampak langsung terhadap warga dinilai tidak terlalu signifikan.
Sebelumnya, sesaat setelah gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi peringatan dini tsunami berdasarkan hasil pemodelan. Peringatan tersebut kemudian berakhir setelah dilakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan.
Meski hasil pemantauan udara menunjukkan dampak tsunami relatif terbatas, BNPB tidak berhenti pada pengamatan dari udara. Survei darat akan dilakukan untuk memperkuat data mengenai kerusakan dan memastikan temuan visual dari udara sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari strategi BNPB dalam menentukan pola distribusi bantuan. Untuk wilayah yang masih dapat dijangkau kendaraan, distribusi melalui jalur darat tetap menjadi pilihan. Namun, untuk lokasi yang terisolasi atau sulit dicapai kendaraan, operasi udara akan dioptimalkan.
“Kami juga sempat membuat foto udara untuk daerah-daerah terdampak, kerusakan-kerusakan rumah dan seterusnya. Itu benar-benar kita akan optimalkan operasi udara untuk dropping logistik sebagaimana yang kita lakukan di tempat-tempat lain di mana akses darat cukup sulit untuk dilakukan,” kata Abdul Muhari.
Dengan demikian, pemetaan udara BNPB menjadi bagian penting dalam mengubah respons bencana dari sekadar melihat dampak menuju penentuan strategi penanganan yang lebih presisi. Di tengah medan Flores yang berbukit dan permukiman yang tersebar, peta akses menjadi sama pentingnya dengan data kerusakan untuk memastikan bantuan tiba di tangan warga yang membutuhkan. (Sumber: BNPB RI)











