38.310 Hektare Lahan Terbakar di Kalbar, BNPB Kembali Intensifkan Modifikasi Cuaca

Personel Sat Brimob Polda Kalbar bersama petugas BPBD Kubu Raya melakukan pembasahan di lokasi kebakaran lahan gambut di Jalan Angkasa Pura, Kecamatan Sungai Raya (Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang).

PONTIANAK — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas lahan yang terbakar di Kalimantan Barat mencapai 38.310,89 hektare sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Besarnya area terdampak menjadi salah satu indikator seriusnya karhutla di provinsi tersebut sekaligus meningkatkan ancaman kabut asap bagi masyarakat.

Lahan yang terbakar tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama jika kebakaran terus meluas dan menghasilkan sebaran asap dalam jumlah besar.

Situasi tersebut mendorong BNPB memperkuat penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan. Selain Kalimantan Barat, peningkatan aktivitas kebakaran juga terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dalam sepekan terakhir.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan peningkatan aktivitas karhutla dipengaruhi minimnya curah hujan alami selama hampir sepekan terakhir.

Menurut dia, penanganan karhutla di Kalimantan menghadapi tantangan khusus karena sebagian kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut. Api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar berhenti karena bara masih dapat bertahan di bawah permukaan tanah.

“Permukaan lahan yang terlihat sudah padam belum tentu bara di bawahnya benar-benar mati,” ujar Suharyanto, Minggu (23/8/2026).

Kondisi tersebut membuat hujan dengan intensitas yang cukup menjadi salah satu faktor penting dalam proses pemadaman. Air hujan diharapkan dapat membasahi kembali lahan gambut sekaligus membantu mematikan bara yang masih tersimpan di dalam tanah.

Sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan, BNPB kembali melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penyemaian awan menggunakan garam dilakukan berdasarkan evaluasi teknis dan ketersediaan awan yang dipantau bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“OMC menjadi salah satu prioritas kita. Hari ini sudah bisa kembali dilaksanakan secara intensif berdasarkan kondisi awan yang tersedia,” katanya.

BNPB juga memperkuat penanganan melalui penambahan armada udara serta personel dan sarana pemadaman di darat. Langkah tersebut diarahkan untuk mencegah titik api berkembang dan memperluas area terdampak.

Dengan luas lahan terbakar yang telah mencapai lebih dari 38 ribu hektare di Kalimantan Barat, percepatan pemadaman dan pencegahan titik api menjadi penting untuk menekan potensi meluasnya karhutla serta dampak asap terhadap masyarakat.

Pemerintah daerah bersama unsur terkait juga terus memperkuat kesiapsiagaan selama periode rawan kebakaran, termasuk pemantauan titik panas, pemadaman di lapangan dan langkah pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *