NEW JERSEY – Final Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol dan Argentina berlangsung penuh drama. Selain ditentukan lewat gol Ferran Torres pada babak tambahan, pertandingan juga diwarnai kartu merah, kericuhan setelah laga, hingga tangisan Lionel Messi.
Argentina yang tampil bertahan sepanjang pertandingan kehilangan satu pemain setelah Enzo Fernández diusir wasit akibat menerima kartu kuning kedua menjelang berakhirnya waktu normal.
Unggul jumlah pemain, Spanyol akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-106. Ferran Torres memanfaatkan umpan Nico Williams untuk mencetak gol semata wayang yang memastikan kemenangan 1-0 sekaligus membawa Spanyol menjadi juara dunia 2026.
Ketegangan belum berakhir setelah peluit panjang dibunyikan. Keributan terjadi ketika Leandro Paredes mendorong Gavi dan Eric García hingga terjatuh. Insiden tersebut membuat Paredes diganjar kartu merah sehingga Argentina mengakhiri laga dengan sembilan pemain.
Di tengah perayaan Spanyol, Lionel Messi menerima medali sebagai runner-up dengan mata berkaca-kaca. Penampilan terakhirnya di Piala Dunia harus berakhir tanpa trofi setelah Argentina gagal mempertahankan gelar juara.
Sepanjang pertandingan, Argentina lebih banyak bertahan dan mengandalkan penyelamatan luar biasa Emiliano Martínez. Kiper berusia 33 tahun itu berkali-kali menggagalkan peluang emas Spanyol sehingga skor tetap imbang hingga babak tambahan.
Dominasi Spanyol terlihat jelas lewat 20 tembakan yang mereka lepaskan, sedangkan Argentina hanya mampu mencatat dua percobaan, termasuk tembakan pertama mereka yang baru hadir pada menit ke-115 melalui Lionel Messi.
Kemenangan tersebut mengukuhkan Spanyol sebagai juara dunia untuk kedua kalinya setelah sebelumnya meraih gelar perdana pada 2010. Gelar ini juga melengkapi kesuksesan La Roja yang dua tahun sebelumnya menjuarai Piala Eropa.
Final Piala Dunia 2026 turut disaksikan sejumlah pemimpin dunia, termasuk Raja Felipe VI dari Spanyol, Presiden FIFA Gianni Infantino, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, serta Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum.
Namun, laga puncak yang dipenuhi kemegahan seremoni dan pertunjukan hiburan itu justru berlangsung minim peluang dan lebih banyak diwarnai permainan keras serta taktik bertahan Argentina sebelum akhirnya ditutup dengan pesta juara Spanyol.











