BERGERAK BERSAMA: Tangguh di Dalam, Inklusif ke Luar!
(Oleh: Lusy Palulungan)
HARI INI, di bawah payung Sidang Sinode XXVI Gereja Toraja di Tanah Luwu Palopo, seluruh warga Gereja Toraja melalui seluruh presbiter terpilih diharapkan tidak hanya berkumpul untuk mengevaluasi program tetapi juga untuk menentukan arah: Ke mana Gereja Toraja akan melangkah di masa depan?
Dalam terang tema “Teguh dalam Kebenaran, Bertumbuh dalam Kasih” (Efesus 4:15), diharapkan lahir sebuah visi gerakan yang menjiwai semangat pelayanan Gereja Toraja tidak hanya 5 tahun ke depan, tetapi terus menjadi suluh bagi pelayanan gereja ini, masa ke masa. Sebuah visi kepemimpinan yang tidak hanya mengelola organisasi, tetapi memulihkan kehidupan jemaat dari akar terdalamnya dengan komitmen : Ketahanan Keluarga dan Inklusivitas Radikal! Demikian ungkap Charles Wiseman, seorang warga Gereja Toraja yang sudah malang melintang dalam kehidupan oraganisasi, baik di lingkungan gerejawi, pelayanan eksternal gereja maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Menurut Charles, kepemimpinan yang inklusif harus didorong secara radikal dan bukan setegah-setengah, bukan sekedar jargon indah tak berwujud.
Kita tentu berharap, SSA ini akan menghasilkan pokok-pokok pikiran yang baik dan benar, yang positif dan unggul sehingga membawa pelayanan Gereja Toraja tidak biasa-biasa saja, tetapi menjangkau semua ciptaan. Meskipun demikian, untuk melakukan pembaharuan tentunya harus dimulai dari internal gereja terlebih dahulu. Semoga terpilih pemimpin-pemimpin gereja yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, khususnya hal-hal yang terkait dengan moral dan integritas seorang pemimpin.
Warga Gereja Toraja lainnya, yang selama ini dikenal sebagai aktivis perempuan, konsiten bergerak dalam perjuangan kesetaraan gender, keadilan sosial bagi kelompok marjinal dan aktif dalam perjuangan hak perempuan, hukum dan perlindungan anak, Ibu Lusia Palulungan mengutarakan semangat serupa.
Menurut Lusy, Perubahan Dimulai dari Rumah: Kampanye Ketahanan Keluarga!
Mari kita jujur pada realitas. Jemaat kita tidak akan pernah kuat jika fondasi terkecilnya rapuh. Keluarga-keluarga kita hari ini sedang digempur oleh krisis ekonomi, keretakan relasi, dan tantangan zaman digital yang menjauhkan yang dekat.
Karenanya, diperlukan pemimpin visioner yang mampu menggeser fokus pelayanan dari sekadar seremonial menuju pendampingan pastoral domestik yang nyata.
Menurut Lusy, saat ini Gereja Toraja membutuhkan sosok pemimpin perempuan yang revolusioner, karena baginya kepemimpinan perempuan membawa perspektif rahim (compassion) sebuah pendekatan yang merangkul keluarga yang terluka, bukan menghakimi mereka.
Targetnya jelas: Membawa Gereja hadir di setiap meja makan jemaat, memperkuat ekonomi domestik, dan membentengi generasi muda dengan kebenaran yang hidup. Ketika keluarga tangguh, Gereja Toraja tidak akan goyah oleh arus zaman!
Buka Pintu, Robohkan Sekat: Kampanye Inklusivitas Total!
Gereja yang bertumbuh dalam kasih adalah gereja yang berani meluaskan kemahnya. Kita tidak boleh menjadi menara gading yang eksklusif. Kepemimpinan masa depan harus memastikan bahwa tidak ada satu pun warga jemaat yang tertinggal atau dipinggirkan.
Merangkul Kaum Rentan: Kepemimpinan perempuan akan memastikan sistem sinodal memberikan ruang aman, hak suara, dan perlindungan nyata bagi kaum perempuan, anak-anak, lansia, dan kelompok disabilitas.
Keadilan Gender & Kepemimpinan: Menghargai kepelbagaian karunia tanpa dibatasi oleh sekat-sekat patriarki yang kaku.
Kepemimpinan yang peduli akan mengubah wajah gereja menjadi Oikos—sebuah rumah bersama yang ramah, di mana setiap orang tidak hanya dipersilakan datang, tetapi diakui sebagai bagian utuh dari tubuh Kristus! Demikian ungkap Lusy.
Panggilan untuk Bertindak (Call to Action)
Dari aspirasi tersebut, tentu seluruh warga Gereja Toraja berharap dan berdoa, visi ini bukan sekadar janji di atas kertas. Ini adalah sebuah cetak biru gerakan oikumenis yang menghubungkan spiritualitas global dengan realitas lokal di jemaat-jemaat. Kepemimpinan perempuan mengajak untuk meninggalkan cara-cara lama yang kaku dan dengan semangat kebersamaan, membangun Gereja Toraja yang responsif, inklusif, dan berdampak nyata bagi transformasi sosial.
Kita berharap forum persidangan SSA XXVI memilih kepemimpinan yang mendengarkan dengan hati, bertindak dengan keberanian, dan menenun masa depan dengan kasih. Teguh dalam Kebenaran, Bertumbuh dalam Kasih, Bersama Kita Wujudkan Gereja Toraja yang Tangguh dan Inklusif!. (*/LP)











