News  

Sejarah Hilang, Bangkai Kapal Perang Dunia II di Laut Jawa Dijarah

Sumber Foto: penyelam asal Australia, Kevin Denlay.

LONDON, U.K — Laut Jawa pernah menjadi saksi salah satu pertempuran laut paling menentukan dalam Perang Dunia II. Namun, lebih dari tujuh dekade setelah pertempuran itu berakhir, jejak sejarah yang tersimpan di dasar laut kini hampir lenyap.

Laporan The Guardian mengungkap, sedikitnya tiga kapal perang Inggris dan satu kapal selam Amerika Serikat yang tenggelam dalam Pertempuran Laut Jawa telah hampir sepenuhnya hilang akibat penjarahan besi tua. Kapal penjelajah berat HMS Exeter, kapal perusak HMS Encounter, serta kapal selam USS Perch dilaporkan telah diangkat dari dasar laut. Sementara itu, sebagian besar bangkai HMS Electra juga mengalami kerusakan akibat aktivitas pengambilan logam.

Tidak hanya kapal milik Inggris dan Amerika Serikat, tiga kapal perang Belanda, yakni HNLMS De Ruyter, HNLMS Java, dan HNLMS Kortenaer, juga dilaporkan telah hilang dari dasar Laut Jawa. Hilangnya bangkai kapal tersebut memicu keprihatinan para veteran perang dan keluarga korban karena lokasi itu selama ini dianggap sebagai makam para prajurit yang gugur.

Pertempuran Laut Jawa yang terjadi pada 27 Februari 1942 menjadi salah satu kekalahan terbesar pasukan Sekutu di kawasan Asia Tenggara. Armada gabungan Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Australia (ABDA Command) berusaha menghalau invasi Jepang ke Hindia Belanda.

Namun, operasi tersebut berakhir dengan kekalahan telak. Lima kapal perang Sekutu tenggelam dan sekitar 2.300 pelaut tewas. Kekalahan itu membuka jalan bagi Jepang menguasai Pulau Jawa beserta sumber daya minyak yang menjadi penopang ekspansi militernya ke Tiongkok, Asia Tenggara, hingga Pasifik.

Ditemukan Setelah Puluhan Tahun

Selama lebih dari 50 tahun, lokasi bangkai kapal-kapal tersebut tidak diketahui. Baru pada 2002 hingga 2007, penyelam asal Australia, Kevin Denlay, bersama tim ekspedisi kapal MV Empress, berhasil menemukan satu per satu bangkai kapal bersejarah itu.

Dimulai dari penemuan HNLMS De Ruyter dan HNLMS Java pada 2002, disusul HMS Electra pada 2003, HNLMS Kortenaer pada 2004, USS Perch pada 2006, hingga HMS Exeter dan HMS Encounter pada 2007.

Menurut Denlay, kondisi kapal-kapal tersebut saat pertama kali ditemukan masih sangat utuh meski telah puluhan tahun berada di dasar laut.

“Sebagian besar bangkai kapal masih seperti saat pertama kali tenggelam. Selain sedikit tertutup jaring nelayan dan karang, hampir tidak ada campur tangan manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kapal-kapal perusak memang memperlihatkan kerusakan akibat pertempuran, sementara kapal penjelajah seperti HMS Exeter masih berdiri kokoh, kecuali pada bagian yang terkena torpedo.

Dari seluruh bangkai kapal yang ditemukan, Denlay mengaku memiliki ikatan emosional dengan HNLMS Java. Namun, momen yang paling berkesan baginya adalah ketika berhasil menemukan HMS Exeter setelah lima tahun pencarian.

Saat turun menyelam di sebuah bangkai kapal yang belum teridentifikasi, ia melihat dudukan meriam kembar berukuran empat inci muncul dari kegelapan dasar laut.

“Saat itu saya langsung tahu kami akhirnya menemukan HMS Exeter. Tidak ada kapal perang lain di Laut Jawa yang memiliki konfigurasi meriam seperti itu,” kenangnya.

Denlay menggambarkan pengalaman menyelami bangkai kapal tersebut layaknya berjalan kembali ke masa lalu. Baginya, kapal-kapal itu merupakan kapsul waktu yang menyimpan kisah pertempuran dan pengorbanan ribuan prajurit.

“Rasanya seperti berjalan di atas dek kapal yang tenggelam puluhan tahun lalu. Kini semuanya telah hilang untuk selamanya,” katanya.

Denlay menilai bangkai kapal perang di perairan Asia sangat sulit dilindungi dari penjarah logam. Menurutnya, pengawasan penuh terhadap seluruh lokasi bangkai kapal hampir mustahil dilakukan.

Ia juga menyoroti belum adanya komitmen internasional yang kuat untuk melindungi situs-situs bersejarah tersebut. Selama masih memiliki nilai ekonomi, bangkai kapal akan terus menjadi sasaran penjarahan.

Meski demikian, ia berpendapat bangkai kapal perang seharusnya tidak dieksploitasi secara komersial karena merupakan bagian dari sejarah sekaligus makam para prajurit yang gugur.

Denlay mengusulkan agar artefak tertentu dapat diangkat secara resmi untuk dipamerkan di museum sehingga generasi mendatang masih memiliki bukti nyata tentang sejarah tersebut.

“Sayangnya kesempatan itu kini telah hilang. Bangkai kapal-kapal itu sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Menurut Denlay, hampir seluruh bangkai kapal perang Perang Dunia II yang pernah ia temukan atau selami di kawasan Asia kini telah hilang atau mengalami kerusakan berat akibat penjarahan.

“Bagi saya, ini adalah akhir dari sebuah era penyelaman kapal karam bersejarah di perairan Asia,” tutupnya. (Sumber: All About History)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page