WaraNews.id — Di tengah kemajuan teknologi medis yang pesat, sebuah kondisi kesehatan purba masih sering diselimuti kabut stigma dan kesalahpahaman di tengah masyarakat Indonesia, epilepsi. Penyakit yang sering secara keliru disebut “ayan” atau “mati suri sesaat” ini bukanlah kutukan atau penyakit menular, melainkan gangguan neurologis kronis yang serius.
Meskipun pemahaman medis telah berkembang pesat, beban psikosial dan fisik yang ditanggung oleh jutaan penderitanya di seluruh dunia, termasuk Indonesia, tetap sangat berat.
Secara fundamental, epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf pusat (neurologis) di mana aktivitas otak menjadi tidak normal. Otak manusia bekerja menggunakan sinyal listrik yang teratur namun, pada penderita epilepsi, terjadi lonjakan aktivitas listrik yang mendadak, berlebihan, dan tidak terkendali di sekelompok sel otak.
Kejang adalah gejala utama epilepsi, namun tidak semua kejang berarti epilepsi. Penting untuk dipahami bahwa kejang epilepsi memiliki spektrum yang sangat luas. Mitos masyarakat seringkali hanya mengenali kejang grand mal (tonik-klonik) di mana penderita jatuh, kaku, kelonjotan, dan mulut berbusa.
“Epilepsi bukan sekadar diagnosis medis, melainkan tantangan hak asasi manusia. Di banyak belahan dunia, terdapat ‘gap pengobatan’ yang sangat besar. Padahal, dengan pencegahan infeksi saraf yang tepat dan perawatan persalinan yang aman, kita bisa menurunkan angka kasus epilepsi baru secara signifikan, terutama pada anak-anak. Kunci utamanya adalah mengintegrasikan kesehatan otak ke dalam layanan kesehatan primer.” Dr. Helen Cross (Presiden International League Against Epilepsy / ILAE).
Faktanya, banyak kejang berlangsung sangat halus, seperti penderita yang tiba-tiba melamun kosong selama beberapa detik (kejang absans), melakukan gerakan berulang tanpa sadar, atau mengalami sensasi aneh. Dua atau lebih kejang tanpa penyebab yang jelas (unprovoked seizures) dalam jeda waktu lebih dari 24 jam umumnya menjadi dasar diagnosis epilepsi.
Menemukan “pemicu” utama (etiologi) di balik korsleting otak ini adalah kunci untuk penanganan dan, yang lebih penting, pencegahan. Penyebab epilepsi sangat bervariasi dan seringkali multifaktorial. Sekitar 50% kasus di seluruh dunia tidak diketahui penyebab pastinya (idiopatik), yang seringkali terkait dengan faktor genetik.
Namun, separuh kasus lainnya memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi, seperti cedera kepala berat akibat kecelakaan, stroke (penyebab utama pada lansia), infeksi otak (seperti meningitis atau ensefalitis), tumor otak, dan gangguan perkembangan seperti autisme atau neurofibromatosis.
Di sinilah letak urgensi pembahasan yang sering terabaikan: pencegahan. Meskipun epilepsi genetik atau idiopatik sulit dicegah secara langsung, sebagian besar kasus epilepsi sekunder (yang disebabkan oleh faktor eksternal) sebenarnya sangat mungkin untuk dihindari.
Strategi pencegahan epilepsi harus dilihat sebagai upaya holistik yang dimulai bahkan sebelum kelahiran. Ini bukan hanya tentang mengobati kejang, tetapi tentang melindungi otak dari kerusakan yang dapat memicu aktivitas listrik abnormal di kemudian hari.
Pencegahan primer dimulai dengan perawatan prenatal yang disiplin. Kesehatan ibu selama kehamilan sangat krusial. Infeksi pada ibu hamil, kekurangan gizi, atau komplikasi selama persalinan (seperti asfiksia atau kurangnya oksigen pada bayi saat lahir) dapat menyebabkan kerusakan otak permanen pada bayi yang berpotensi menjadi fokus epilepsi.
Persalinan yang aman oleh tenaga medis profesional dan perawatan pascakelahiran yang adekuat adalah langkah pencegahan paling awal dan fundamental.
Selanjutnya, upaya pencegahan harus berfokus pada pengurangan faktor risiko utama cedera otak. Cedera Kepala Traumatik (TBI) akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh adalah penyebab signifikan epilepsi yang dapat dicegah. Kesadaran akan keselamatan fisik secara langsung berkontribusi pada penurunan angka kasus epilepsi baru.
Faktor risiko lain yang sangat dapat dicegah adalah penyakit kardiovaskular, terutama stroke. Stroke menyebabkan kerusakan pada jaringan otak yang seringkali menjadi pemicu kejang pada orang dewasa.
Menerapkan gaya hidup sehat seperti mengontrol tekanan darah tinggi (hipertensi), mengelola diabetes, berhenti merokok, berolahraga teratur, dan mengonsumsi makanan bergizi adalah strategi pencegahan tidak langsung yang sangat ampuh untuk menurunkan risiko epilepsi akibat stroke. Melindungi jantung dan pembuluh darah berarti juga melindungi otak.
Selain itu, pencegahan infeksi sistem saraf pusat merupakan pilar penting lainnya. Infeksi seperti meningitis, ensefalitis, dan neurosistiserkosis (infeksi parasit di otak) adalah penyebab umum epilepsi, terutama di negara-negara berkembang.
Upaya imunisasi (seperti vaksin Hib dan pneumokokus untuk mencegah meningitis), peningkatan sanitasi, dan edukasi kebersihan makanan sangat krusial untuk mencegah infeksi ini menjangkau otak dan menyebabkan kerusakan jangka panjang yang memicu kejang.
Terakhir, bagi individu yang sudah didiagnosis menderita epilepsi, fokus beralih ke pencegahan sekunder, mencegah kekambuhan kejang dan komplikasinya. Kepatuhan terhadap pengobatan antikejang yang diresepkan dokter adalah hal terpenting. Namun, mengidentifikasi dan menghindari “pemicu” kejang spesifik juga sama pentingnya.
Pemicu umum meliputi kurang tidur, stres emosional berat, konsumsi alkohol, cahaya berkedip (fotosensitivitas), dan kelelahan fisik ekstrim.
Dengan gaya hidup yang terstruktur dan manajemen stres yang baik, penderita epilepsi dapat hidup produktif dan meminimalkan risiko serangan. Pencegahan epilepsi, dengan demikian, adalah tanggung jawab bersama mulai dari kebijakan kesehatan publik hingga pilihan gaya hidup individu.











