WaraNews.id — Di alam liar, kemampuan mendengar bukan sekadar soal mendeteksi suara, melainkan kunci utama untuk bertahan hidup. Meski banyak pihak kerap menyebut kelelawar atau ngengat lilin (wax moth) sebagai pemilik pendengaran terbaik di dunia, para ilmuwan menegaskan bahwa predikat tersebut sebenarnya tidak mutlak dan sangat bergantung pada adaptasi lingkungan.
Ngengat lilin memang diketahui memiliki rekor kemampuan menangkap frekuensi suara ekstrem hingga 300 kilohertz, sekitar 15 kali lebih tinggi dari batas pendengaran manusia. Kemampuan ini berevolusi murni sebagai mekanisme pertahanan diri untuk menghindari gelombang ultrasonik yang dipancarkan kelelawar sang predator.
Namun, apakah ngengat lilin atau kelelawar merupakan pemilik pendengaran “terbaik”?
“Yang dimaksud dengan ‘terbaik’ selalu bersifat relatif,” kata Christine Köppl, Profesor Fisiologi Koklea dan Batang Otak Pendengaran di University of Oldenburg, dalam laporannya yang dilansir Live Science.
Köppl menjelaskan bahwa sistem pendengaran hewan dibentuk oleh faktor-faktor yang berbeda, mulai dari tingkat sensitivitas, kemampuan membedakan frekuensi suara yang mirip, hingga presisi dalam menentukan lokasi sumber suara. Karena variabel yang sangat beragam ini, mengurutkan peringkat pendengaran hewan menjadi hal yang sulit.
Namun, jika harus memilih, Köppl menyoroti keistimewaan burung hantu serak jawa (barn owl).
“Saya pernah meneliti burung hantu ini, jadi mereka berada di urutan teratas dalam daftar saya. Seluruh sistem pendengarannya telah dibentuk oleh kebiasaan berburu di malam hari dan kemampuannya untuk menentukan lokasi mangsa secara presisi hanya dengan mendengarkan,” jelas Köppl.
Burung hantu ini didukung oleh anatomi posisi telinga kanan dan kiri yang tidak sejajar. Perbedaan ini membuat gelombang suara tiba di telinga dengan selisih waktu sekian milidetik, yang dimanfaatkan otak burung hantu untuk mengalkulasi titik kordinat mangsa secara akurat di balik tumpukan salju atau dedaunan.
Melihat Dunia Melalui Suara
Berbeda dengan burung hantu, kelelawar dan lumba-lumba justru memanfaatkan suara sebagai alat “penglihatan” utama mereka melalui sistem ekolokasi.
Pakar dari Woods Hole Oceanographic Institution, Darlene Ketten, memaparkan bahwa kedua spesies lintas habitat ini menggunakan suara yang dipantulkan dari objek sekitar untuk memetakan ruang dan mangsa.
“Kedua hewan ini tidak hanya sekadar menangkap suara, tetapi juga menggunakannya secara aktif untuk ‘melihat’ kondisi lingkungan sekitar mereka,” terang Ketten.
Lumba-lumba, lanjut Ketten, tidak memiliki telinga luar yang besar seperti kelelawar. Sebagai gantinya, mereka memanfaatkan jaringan lemak di sekitar rahang bawah untuk menangkap gelombang pantulan di dalam air, yang kemudian disalurkan ke saraf pendengaran yang sangat tebal. Keduanya juga memiliki mekanisme redam di otak agar tidak tuli karena suara nyaring yang mereka keluarkan sendiri.
Anomali Mamalia Amfibi
Sementara itu, untuk kemampuan mendengar melintasi dua medium yang berbeda udara dan air kelompok pinniped (seperti anjing laut, walrus, dan singa laut) tidak tertandingi.
Peneliti akustik kelautan, Brandon Southall, menyebut kelompok hewan ini melakukan hal yang nyaris mustahil dalam hukum fisika akustik. Mamalia laut ini dituntut untuk memiliki pendengaran yang sama tajamnya, baik saat berburu di bawah air maupun saat berkembang biak di daratan.
Southall bahkan memiliki catatan pengamatan langsung yang menunjukkan betapa tajamnya radar audio hewan amfibi ini di darat. “Saya pernah mengamati seekor anjing laut yang merespons secara langsung terhadap suara salju yang terinjak dari jarak hingga sekitar 1,6 kilometer,” ungkapnya.
Rahasianya terletak pada kemampuan fisiologis mereka. Saat menyelam, anjing laut mengisi ruang di telinga tengah mereka dengan darah sehingga gelombang suara di air merambat sempurna. Begitu mereka naik ke darat, darah ditarik kembali dan telinga mereka terisi udara, memungkinkan mereka mendengar tajam layaknya hewan darat.
Beragam temuan ini menegaskan satu hal: alam tidak menciptakan satu jenis telinga untuk merajai semua tempat, melainkan merancangnya secara spesifik agar setiap spesies mampu bertahan dari kerasnya seleksi alam. (Sumber: National Geographic)











