NTT — Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB. Gempa tersebut mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan pemutakhiran data hingga pukul 12.30 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat dan 11 orang luka ringan. Data tersebut masih bersifat sementara dan dalam proses pendataan, verifikasi serta validasi di lapangan.
Korban meninggal dunia tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak tiga orang, Kabupaten Manggarai enam orang dan Kabupaten Manggarai Timur lima orang. Sementara korban luka dilaporkan terjadi di Kabupaten Sikka, Nagekeo, Manggarai dan Manggarai Timur.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan data korban masih dapat berubah seiring proses verifikasi yang dilakukan BPBD bersama unsur terkait. Setiap perkembangan akan disampaikan berdasarkan hasil pendataan resmi di lapangan.
Selain korban jiwa, sekitar lima kepala keluarga terdampak dan sekitar 2.000 warga melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri. Evakuasi dilakukan setelah warga merasakan guncangan kuat dan menyusul peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa utama.
Puluhan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak
Dari sisi kerusakan, sementara tercatat 54 unit rumah rusak berat, sembilan unit rusak sedang dan 11 unit rusak ringan.
Kerusakan juga meliputi lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah serta enam kantor pemerintahan.
Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan dampak kerusakan cukup signifikan. Sebanyak 29 rumah dilaporkan rusak berat, sembilan rusak sedang dan sembilan rusak ringan. Lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan.
Sementara di Kabupaten Manggarai Timur tercatat 23 rumah mengalami rusak berat.
Di Kabupaten Nagekeo, dua rumah rusak berat, satu rusak sedang dan dua rusak ringan. Dua fasilitas ibadah mengalami kerusakan ringan, sedangkan lima kantor pemerintahan turut terdampak.
Kondisi di Nagekeo juga masih diwarnai kemacetan arus lalu lintas dan pemadaman listrik.
Untuk korban jiwa, Kabupaten Sikka melaporkan tiga orang meninggal dunia dan dua orang luka ringan. Kabupaten Manggarai mencatat enam korban meninggal dunia, satu luka berat dan dua luka ringan. Sedangkan Kabupaten Manggarai Timur mencatat lima korban meninggal dunia, satu luka berat dan lima luka ringan.
Berpusat di Laut, Sempat Picu Peringatan Tsunami
Gempa utama berpusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer. Lokasi tersebut berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Guncangan kuat dirasakan sekitar satu menit di Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat dan Kota Bima. Getaran gempa juga dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto, Kepulauan Selayar dan Maros.
Gempa utama sempat memicu peringatan dini tsunami. BPBD bersama unsur terkait kemudian mengarahkan masyarakat di wilayah pesisir untuk melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi dan aman.
Namun, berdasarkan hasil observasi tinggi muka laut di wilayah terdampak, tidak ditemukan lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan. BMKG kemudian menyatakan peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 07.31.30 WIB.
Pasca gempa utama, sedikitnya empat gempa susulan tercatat dengan magnitudo antara M 5,5 hingga M 6,2. Seluruh gempa susulan tersebut tidak berpotensi tsunami.
Penanganan dan Kebutuhan Mendesak
BPBD di wilayah terdampak bersama TNI, Polri, pemerintah daerah dan instansi terkait masih melakukan kaji cepat, pendataan korban dan kerusakan, pemantauan kondisi masyarakat serta penanganan kebutuhan warga terdampak.
Khusus di Kabupaten Manggarai, sejumlah kebutuhan mendesak telah diidentifikasi. Di antaranya 15 tenda pengungsi, 12 tenda posko, 20 tenda pleton, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 velbed, 1.000 selimut, 1.000 tikar dan 500 paket peralatan dapur.
Kebutuhan lainnya berupa 12 tandon air berkapasitas 2.200 liter, 10 unit genset 5 KVA, 10 unit handy talky dan 100 unit senter.
BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta menghindari bangunan yang retak atau mengalami kerusakan karena masih terdapat potensi gempa susulan.
Masyarakat di wilayah pesisir juga diminta tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG. Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap kemungkinan gempa susulan maupun bahaya lain akibat kerusakan bangunan.
BNPB bersama BPBD dan unsur terkait akan terus melakukan pemantauan serta memperbarui data dampak gempa. Informasi perkembangan situasi akan disampaikan melalui kanal resmi pemerintah dan BMKG.











