BANTEN — Harapan keluarga agar pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Banten, tidak berhenti pada batas waktu operasi SAR terus menguat. Memasuki hari ketujuh, Senin (14/9/2026), keberadaan delapan orang yang berada di dalam speedboat Arupadhatu 1 itu belum diketahui.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan keluarga berharap Basarnas mempertimbangkan perpanjangan operasi pencarian apabila hingga berakhirnya hari ketujuh para korban belum ditemukan. Keluarga juga meminta tim SAR kembali menyisir wilayah daratan, termasuk Pulau Sebesi, serta memperluas pencarian di perairan sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Permintaan tersebut disampaikan setelah operasi pencarian yang dilakukan sejak laporan hilang kontak diterima Basarnas belum membuahkan hasil. Tim SAR gabungan sebelumnya telah memperluas wilayah pencarian ke sejumlah sektor laut dan melakukan penyisiran di beberapa pulau sekitar GAK.
Berangkat untuk Meliput Erupsi
Rombongan tersebut berjumlah delapan orang. Mereka terdiri atas lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.
Tiga orang lainnya adalah Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai awak kapal, dan Heriyanto (49) yang bertugas sebagai pemandu. Kedelapan orang tersebut menggunakan speedboat Arupadhatu 1 untuk menuju kawasan Gunung Anak Krakatau guna meliput aktivitas erupsi gunung api tersebut.
Rombongan bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Sekitar 42 menit setelah keberangkatan, pada pukul 14.42 WIB, salah satu anggota rombongan masih sempat mengirimkan titik lokasi terakhir kepada rekan jurnalis di Lampung. Setelah itu, komunikasi dengan rombongan mulai tidak dapat dilakukan.
Sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan speedboat tersebut benar-benar terputus. Kapal beserta delapan orang di dalamnya kemudian tidak lagi dapat dihubungi.
Laporan Masuk Sehari Kemudian
Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten menerima laporan hilang kontak tersebut pada Selasa (8/9) sekitar pukul 13.55 WIB. Laporan disampaikan oleh Bayu, jurnalis Antara Banten, setelah rekan-rekannya tidak kunjung dapat dihubungi sejak keberangkatan sehari sebelumnya.
Tim Rescue Unit Siaga SAR Pandeglang kemudian bergerak mengumpulkan informasi dari Dermaga Pagedongan dan menentukan lokasi yang menjadi titik awal pencarian. Tim SAR selanjutnya melakukan penyisiran di perairan yang diperkirakan menjadi jalur perjalanan Arupadhatu 1.
Pencarian kemudian diperluas dengan melibatkan unsur Basarnas, TNI AL, Polairud, BPBD, serta unsur terkait lainnya. Pada hari ketiga, area pencarian diperluas menjadi enam sektor dengan luas sekitar 2.483 mil laut persegi. Kondisi cuaca, angin kencang, gelombang laut, serta abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi sejumlah kendala dalam operasi.
Pada hari keempat, Basarnas mengerahkan 13 kapal yang dibagi ke dalam empat sektor pencarian. Tim juga memusatkan penyisiran di radius terdekat dari Gunung Anak Krakatau dengan tetap mempertimbangkan keselamatan personel karena aktivitas vulkanik dan kondisi perairan.
Pencarian tidak hanya dilakukan di laut. Tim juga menyisir sejumlah pulau di sekitar kawasan GAK, termasuk Pulau Rakata, Pulau Sertung dan Pulau Panjang, untuk mengantisipasi kemungkinan para korban berhasil mencapai daratan.
Pada Kamis (10/9), tim SAR sempat menemukan sebuah pelampung berwarna oranye dan botol plastik di perairan sekitar Anyer. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, pelampung tersebut dipastikan bukan bagian dari perlengkapan keselamatan Arupadhatu 1.
Informasi lain mengenai adanya orang yang diduga terdampar di sekitar Pelabuhan Bakauheni, Lampung, juga telah ditindaklanjuti tim gabungan. Namun, setelah dilakukan pengecekan, informasi tersebut tidak terbukti dan pencarian di lokasi itu tidak menemukan para korban.
Hingga memasuki hari ketujuh, lima jurnalis dan tiga awak Arupadhatu 1 masih belum ditemukan. Keluarga kini berharap operasi kemanusiaan tersebut dapat diperpanjang sehingga penyisiran dapat terus dilakukan di wilayah perairan maupun daratan di sekitar Selat Sunda.
Andra Soni mengatakan dirinya berharap Basarnas sebagai pemimpin operasi mempertimbangkan harapan keluarga untuk melanjutkan pencarian apabila batas waktu operasi awal berakhir tanpa hasil.











