PT Vale Catat Pendapatan US$290 Juta pada Triwulan II 2026

Close-up of a young miner holding a lump of coal in his hands while in the mine.

JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mulai menunjukkan hasil dari strategi investasi jangka panjang yang selama ini dijalankan. Setelah sempat menghadapi tekanan akibat proyek pemeliharaan fasilitas produksi, perusahaan tambang nikel tersebut berhasil membalikkan kinerja pada triwulan kedua 2026 dengan peningkatan produksi, pendapatan, hingga laba bersih yang signifikan.

Momentum pemulihan ini tidak hanya ditopang oleh naiknya harga nikel global, tetapi juga selesainya proyek pembangunan kembali Tanur Listrik (Electric Furnace) 3 yang menjadi salah satu fasilitas utama pengolahan nikel di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur. Pemulihan kapasitas produksi tersebut menjadi fondasi penting bagi PT Vale untuk menjaga target produksi sepanjang tahun sekaligus memperkuat ekspansi bisnis hilirisasinya.

Pada periode April–Juni 2026, produksi nikel matte mencapai 16.153 metrik ton, meningkat sekitar 19 persen dibanding triwulan pertama yang hanya mencapai 13.620 ton. Dengan capaian tersebut, total produksi semester pertama mencapai 29.773 ton.

Kenaikan produksi itu memberikan dampak langsung terhadap perbaikan kinerja keuangan perusahaan. Di tengah penguatan harga nikel internasional, PT Vale membukukan pendapatan sebesar US$290 juta, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Harga realisasi rata-rata nikel matte juga naik menjadi US$14.765 per ton, memperkuat margin keuntungan perusahaan.

Peningkatan kinerja operasional tersebut tercermin pada lonjakan profitabilitas. EBITDA perusahaan melonjak 45 persen menjadi US$116 juta, sementara laba bersih meningkat menjadi US$61 juta, atau tumbuh sekitar 39 persen dibanding triwulan pertama yang sebesar US$44 juta. Kinerja ini menunjukkan bahwa perbaikan produksi berhasil dikonversi menjadi pertumbuhan laba di tengah kondisi pasar yang semakin kondusif.

Di balik pertumbuhan tersebut, PT Vale juga berhasil menjaga efisiensi operasional. Biaya tunai produksi nikel matte turun menjadi US$10.005 per ton, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar US$10.382 per ton. Efisiensi biaya menjadi faktor penting yang membantu perusahaan mempertahankan daya saing meski biaya energi global mengalami kenaikan akibat dinamika geopolitik internasional.

Selama triwulan kedua, harga bahan bakar minyak jenis HSFO, diesel, dan batu bara mengalami kenaikan masing-masing sekitar 25 persen, 40 persen, dan 12 persen. Meski demikian, perusahaan mampu mengendalikan struktur biaya melalui disiplin operasional dan optimalisasi aktivitas penambangan.

Tidak hanya mengandalkan bisnis nikel matte dari Sorowako, PT Vale kini semakin agresif memperkuat diversifikasi sumber pendapatan melalui pengembangan tiga hub pertambangan di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.

Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Penjualan bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi meningkat menjadi sekitar 1,07 juta wet metric ton (wmt) pada triwulan kedua. Sementara itu, Blok Pomalaa mencatat lonjakan lebih tinggi dengan penjualan mencapai 1,26 juta wmt, jauh di atas capaian triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan volume dari kedua kawasan tersebut memperlihatkan bahwa proyek-proyek pertumbuhan yang selama ini dikembangkan mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu sumber produksi.
Meski membukukan laba yang lebih tinggi, posisi kas perusahaan mengalami penurunan dari US$220 juta pada akhir Maret menjadi sekitar US$111 juta pada akhir Juni 2026. Namun penurunan tersebut bukan disebabkan oleh tekanan likuiditas, melainkan tingginya aktivitas investasi.

Sepanjang triwulan kedua, PT Vale merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$116 juta untuk mendukung keberlanjutan operasi sekaligus mempercepat pembangunan berbagai proyek strategis hilirisasi. Perusahaan menegaskan tetap menjaga disiplin pengelolaan modal dan likuiditas guna memastikan ekspansi jangka panjang berjalan berkelanjutan.

Fokus perusahaan kini mengarah pada penguatan rantai pasok kendaraan listrik melalui proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Sambalagi, Morowali. Salah satu tonggak penting proyek tersebut adalah tibanya autoclave sebagai komponen utama fasilitas pengolahan bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku penting industri baterai kendaraan listrik.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto, menyebut kedatangan autoclave menjadi langkah strategis dalam memperkuat rantai nilai baterai nasional sekaligus mendukung agenda hilirisasi mineral Indonesia.

Menurutnya, proyek HPAL akan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru PT Vale dalam memperluas bisnis dari sektor pertambangan menuju industri pengolahan bernilai tambah yang memiliki prospek tinggi di pasar kendaraan listrik global.

Secara keseluruhan, kinerja triwulan kedua menunjukkan PT Vale mulai memasuki fase baru setelah beberapa tahun terakhir difokuskan pada investasi besar dan pengembangan kapasitas produksi. Dengan produksi yang kembali meningkat, efisiensi biaya yang tetap terjaga, serta proyek-proyek hilirisasi yang terus berkembang, perusahaan kini berada pada posisi yang lebih kuat untuk memanfaatkan momentum permintaan nikel dunia, khususnya dari industri baterai kendaraan listrik yang terus tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *