Inovasi SALAMA BPBD Makassar Jangkau 18.090 Anak, Targetkan 100 Sekolah pada 2026

MAKASSAR — BPBD Kota Makassar terus memperkuat inovasi SALAMA (Sahabat Anak Lewat Afirmasi tentang Aman Bencana) sebagai upaya membangun budaya sadar bencana sejak usia dini. Program tersebut juga dipersiapkan untuk mengikuti penilaian Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri.

Penguatan inovasi itu dibahas dalam Forum Riset dan Inovasi Daerah Angkatan II yang digelar Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Makassar, Senin (6/7/2026).

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli, mengatakan SALAMA dikembangkan untuk mengubah paradigma penanggulangan bencana yang selama ini lebih berfokus pada penanganan pascabencana menjadi upaya pencegahan melalui edukasi sejak dini.

“Melalui SALAMA, kami ingin membangun kesiapsiagaan anak-anak agar memiliki pengetahuan dan kemampuan menghadapi bencana sejak usia dini,” ujarnya.

Menurut Fadli, hingga pertengahan 2026 program SALAMA telah menjangkau 18.090 anak di 30 sekolah yang tersebar di tujuh kecamatan rawan bencana di Kota Makassar. Ke depan, BPBD menargetkan program tersebut diperluas hingga 100 sekolah.

Dalam pelaksanaannya, anak-anak diberikan edukasi mengenai jenis dan risiko bencana, simulasi penyelamatan diri, pengenalan alat keselamatan, permainan edukatif, hingga penguatan mental melalui metode Hypno-Shield.

Fadli menambahkan, pendampingan dari BRIDA difokuskan untuk memperkuat substansi program sekaligus melengkapi dokumen dan bukti pendukung penilaian IGA 2026. Sebelumnya, inovasi SALAMA juga telah meraih penghargaan Innovative Mayor Award (IMA) 2025.

Sementara itu, Tim Inovasi sekaligus Fasilitator Lapangan SALAMA, Nurmadia Syam, mengatakan pendampingan BRIDA menjadi momentum untuk menyempurnakan kualitas inovasi serta memperkuat dokumentasi yang menunjukkan dampak nyata program terhadap peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan anak dalam menghadapi bencana.

Menurutnya, SALAMA diharapkan tidak hanya berprestasi pada ajang IGA 2026, tetapi juga menjadi model edukasi kebencanaan berbasis anak yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page