WaraNews.id — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa mulai memperketat langkah antisipasi menghadapi potensi dampak El Nino yang berpotensi mengganggu stabilitas produksi pertanian. Alih-alih menunggu kondisi memburuk, pemerintah daerah memilih bergerak lebih awal dengan memperkuat sistem adaptasi di lapangan bersama petani dan pelaku sektor pangan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Dialog Luar Studio RRI Pro 1 Makassar yang digelar di Baruga Tinggimae Rumah Jabatan Bupati Gowa, Rabu (6/5). Forum ini mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga perwakilan petani untuk membaca situasi terkini sekaligus menyusun langkah antisipatif di sektor pertanian.
Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menegaskan bahwa kondisi pertanian di wilayahnya saat ini masih relatif aman. Namun demikian, status tersebut tidak membuat pemerintah lengah. Menurutnya, kewaspadaan dini menjadi kunci agar potensi gangguan iklim tidak berdampak pada target produksi pangan daerah.
“Gowa sebagai salah satu penyangga pangan di Sulawesi Selatan masih dalam kondisi relatif aman karena curah hujan di beberapa wilayah masih cukup mendukung. Aktivitas tanam tetap berjalan, tetapi ini tetap kami posisikan sebagai fase waspada,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai risiko penurunan produksi tetap terbuka apabila terjadi penurunan curah hujan dalam beberapa bulan ke depan. Karena itu, sejumlah strategi lapangan mulai diperkuat, mulai dari percepatan pola tanam hingga pemanfaatan teknologi pengairan.
“Jika kekeringan terjadi, dampaknya bisa langsung ke luas tanam dan produktivitas. Karena itu kami tidak menunggu. Percepatan tanam, penggunaan benih tahan kekeringan, serta optimalisasi pompanisasi dan sumber air terus kami dorong,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan yang diambil Pemkab Gowa bukan sekadar bertahan terhadap kondisi, melainkan memastikan sektor pertanian tetap berada pada jalur target produksi yang telah ditetapkan.
“Yang kami dorong adalah adaptasi cepat. Bukan hanya menjaga, tetapi memastikan target produksi tetap tercapai di tengah ancaman perubahan iklim,” tegasnya.
Dari sisi teknis, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa, Zubair Usman, menyebut bahwa seluruh program pertanian tetap dijalankan secara optimal, termasuk program nasional maupun daerah yang menjadi penopang ketahanan pangan.
Menurutnya, tantangan El Nino justru menjadi penguji konsistensi daerah dalam menjaga surplus produksi pangan. Karena itu, seluruh perangkat pertanian terus dioptimalkan agar tidak terjadi penurunan signifikan di lapangan.
“Program tetap kami jalankan secara maksimal. Di tengah tantangan El Nino, fokus kami tetap pada pencapaian target produksi sekaligus menjaga surplus pangan agar Gowa tetap berkontribusi pada ketahanan pangan,” jelasnya.
Sementara itu, petani dari Kecamatan Bajeng, Mustari, mengungkapkan bahwa aktivitas pertanian di wilayahnya masih berjalan stabil. Bahkan, dalam kondisi tertentu, pola tanam masih memungkinkan dilakukan hingga tiga kali setahun dengan dukungan sistem pengairan mandiri.
“Di Bajeng masih aman. Musim tanam masih bisa tiga kali setahun, yang penting informasi dan dukungan teknis sampai ke petani. Kami juga sudah menyiapkan pompanisasi dan sumur di lahan sawah untuk antisipasi kekurangan air,” ujarnya.
Dari forum tersebut terlihat bahwa sinergi antara pemerintah, petani, dan sektor pendukung seperti pupuk menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah ancaman perubahan iklim.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Manager Sulsel 2 dan Sulbar PT Pupuk Indonesia, Muhammad Hidayat Syam, yang ikut memberikan pandangan terkait dukungan sektor pupuk dalam menjaga produktivitas pertanian di daerah.











