News  

Founder KOPTERU Ungkap Cara Memilih DOC Sehat dan Cegah Penyakit pada Ayam

Ayub Herbi Patandean

WaraNews.id — Minat masyarakat terhadap usaha peternakan ayam terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya di kalangan peternak lama, usaha budidaya unggas kini juga mulai banyak dilirik generasi muda karena dianggap memiliki peluang usaha yang menjanjikan.

Namun di balik peluang tersebut, banyak peternak pemula masih menghadapi persoalan mendasar, mulai dari memilih bibit DOC (Day Old Chick) yang sehat hingga penanganan ayam saat terserang penyakit secara mendadak.

Founder KOPTERU Indonesia, Ayub Herbi Patandean, menilai kualitas DOC menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya unggas sejak awal pemeliharaan.

Menurutnya, kesalahan memilih bibit sering menjadi penyebab pertumbuhan ayam tidak maksimal hingga tingginya angka kematian ternak.

Ayub menjelaskan, DOC sehat umumnya memiliki gerakan yang lincah dan aktif. Anak ayam juga terlihat responsif saat disentuh atau didekati.

Selain gerakan, kondisi fisik juga menjadi perhatian penting. Mata DOC sehat harus tampak cerah dan terbuka penuh, tidak sayu, berair, maupun lengket.

Bulu ayam juga harus dalam kondisi kering dan bersih. Sementara bagian kaki terlihat kuat dan tegap saat berdiri, tanpa tanda pincang atau bengkok.

Peternak juga diminta memperhatikan bagian dubur ayam. DOC sehat memiliki dubur yang bersih tanpa kotoran menempel karena kondisi tersebut bisa menjadi tanda gangguan kesehatan.

Untuk standar berat badan, Ayub menyebut DOC ayam kampung idealnya memiliki berat di atas 30 gram, sedangkan DOC broiler di atas 35 gram.

“Suara ayam juga harus nyaring dan tidak memiliki cacat fisik,” ujarnya.

Meski begitu, Ayub mengakui risiko ayam terserang virus atau mati mendadak tetap menjadi hal yang wajar dalam usaha peternakan unggas.

Karena itu, ia meminta peternak tidak panik saat menghadapi kondisi tersebut. Langkah pertama yang harus dilakukan ialah segera memisahkan ayam yang sakit ke kandang karantina agar tidak menular ke ayam lainnya.

Sementara ayam yang sudah mati sebaiknya langsung dikubur jauh dari area kandang untuk mencegah penyebaran virus dan bakteri.

Menurut Ayub, peternak juga harus rutin memantau kondisi ayam lain di dalam kandang. Pengawasan yang teliti dinilai penting agar gejala penularan bisa dideteksi lebih cepat.

Ia menyarankan penggunaan kandang panggung karena dinilai lebih aman dan mampu mengurangi risiko serangan penyakit dibanding kandang yang langsung menyentuh tanah.

Ayub juga mengingatkan peternak agar tidak bolak-balik dari kandang ayam sakit ke kandang ayam sehat tanpa menjaga kebersihan, karena hal tersebut berpotensi mempercepat penyebaran penyakit.

“Dalam peternakan unggas, pencegahan jauh lebih penting daripada pengobatan,” tegasnya.

Berangkat dari banyaknya persoalan yang dialami peternak pemula, KOPTERU Indonesia atau Komunitas Pengusaha Peternak Unggas Indonesia dibentuk pada 2022 sebagai wadah berbagi pengetahuan dan pendampingan bagi peternak unggas di berbagai daerah.

Komunitas yang didirikan Ayub Herbi Patandean itu fokus membina peternak ayam kampung dan bebek, sekaligus membantu distribusi bibit unggas, pakan, hingga kebutuhan peternakan lainnya.

Tidak hanya menjadi ruang diskusi, KOPTERU juga aktif memberikan pendampingan gratis kepada peternak agar mampu mengelola usaha ternak secara lebih baik dan berkelanjutan.

Seiring perkembangannya, komunitas tersebut kini disebut telah membina ribuan pelaku usaha peternakan unggas di berbagai wilayah Indonesia.

Bagi Ayub, keberhasilan usaha peternakan bukan hanya soal produksi, tetapi juga bagaimana peternak memiliki akses pengetahuan, jaringan, dan pendampingan yang tepat agar usaha mereka mampu bertahan dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page