WaraNews.id — Ratusan pengemudi ojek online (ojol) dari Grab, Gojek, Maxim, dan Shopee yang tergabung dalam Forum Suara Ojek Online Semesta (FOR.SOS) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Senin siang. Mereka menolak rencana penerapan potongan 10 persen dan kebijakan perubahan status mitra menjadi karyawan.
Massa membawa bendera merah putih dan spanduk besar bertuliskan “Kami Menolak Keras 10% dan Karyawan Tetap”. Aksi yang diwarnai pembakaran ban ini membuat arus lalu lintas di sekitar lokasi macet total.
“Kami minta perwakilan pemerintah menemui kami. Kami datang untuk menyampaikan aspirasi secara damai,” teriak salah satu orator dari mobil komando.
Ketua Umum Aliansi Unit Reaksi Cepat (URC) MGM Grab, Buya, mengatakan potongan 10 persen akan sangat merugikan para mitra. Menurutnya, kebijakan itu berpotensi menghapus berbagai fasilitas seperti asuransi, perlindungan order fiktif, dan program promo.
“Kalau potongan ini diberlakukan, dampaknya dirasakan semua mitra di Makassar bahkan seluruh Indonesia,” jelasnya.
Buya juga menolak rencana perubahan status driver menjadi karyawan. Ia menilai kebijakan itu dapat mempersulit driver berusia lanjut karena perusahaan umumnya membatasi usia pekerja.
“Kasihan teman-teman yang sudah berumur. Kalau jadi karyawan, otomatis ada batas usia,” tegasnya.
Ia menambahkan, pihaknya berharap pemerintah pusat tidak mengesahkan aturan yang disebut sebagai Perpres Ojol 2025 itu. “Harapan kami, pemerintah tidak mengesahkan regulasi yang merugikan pengemudi,” katanya.
Sebelum bergerak ke Kantor Gubernur, massa lebih dulu menggelar aksi di depan Kantor Dinas PU Sulsel yang kini menjadi kantor sementara DPRD Sulsel.











