Masjid Huashi Beijing: Jejak Islam Enam Abad di Tanah Tiongkok

Mesjid Huashi dibangun pada tahun 1414 Masehi.

WaraNews.id — Di tengah hiruk-pikuk modernitas Kota Beijing, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan jejak panjang peradaban Islam di Tiongkok. Di antara gedung-gedung tinggi dan jalanan yang selalu ramai, Masjid Huashi tetap kokoh berdiri sebagai tempat ibadah sekaligus saksi perjalanan umat Muslim di negeri yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam.

Masjid yang terletak di Distrik Chongwen ini bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah simbol pertemuan dua peradaban besar spiritualitas Islam dan budaya Tiongkok yang berpadu secara harmonis selama lebih dari enam abad.

Sejarah mencatat, Masjid Huashi dibangun pada tahun 1414 Masehi, tepatnya pada tahun ke-12 masa pemerintahan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Pada masa itu, kekaisaran Ming dikenal sebagai salah satu periode penting dalam perkembangan hubungan antara Tiongkok dengan dunia Islam, baik melalui perdagangan maupun pertukaran budaya.

Masjid ini didirikan oleh para jenderal Muslim yang mengabdi kepada Dinasti Ming. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa umat Islam telah memainkan peran penting dalam kehidupan sosial dan militer di Tiongkok pada masa itu. Seiring berjalannya waktu, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan komunitas Muslim di Beijing.

Selama ratusan tahun berdiri, Masjid Huashi beberapa kali mengalami renovasi. Salah satu perbaikan besar dilakukan pada masa Dinasti Qing sekitar tahun 1787. Meski demikian, struktur utama dan nilai sejarahnya tetap dipertahankan. Upaya pelestarian tersebut membuat masjid ini tetap berdiri dengan karakter aslinya hingga hari ini.

Kini, Masjid Huashi memiliki peran yang lebih luas. Selain menjadi tempat shalat bagi umat Islam, kompleks masjid juga menjadi pusat kegiatan Asosiasi Agama Islam Distrik Chongwen. Dari tempat ini berbagai aktivitas keagamaan, sosial, hingga pembinaan umat Muslim di Beijing dijalankan.

Hal yang paling menarik dari Masjid Huashi adalah bentuk arsitekturnya. Berbeda dengan kebanyakan masjid di dunia yang identik dengan kubah besar dan menara tinggi bergaya Timur Tengah, masjid ini justru mengadopsi sepenuhnya arsitektur klasik Tiongkok.

Dari luar, bangunannya lebih menyerupai kuil atau kompleks istana tradisional. Atapnya menggunakan model pelana bertingkat dengan ubin keramik khas bangunan kekaisaran Tiongkok. Struktur kayunya dihiasi detail ukiran halus yang mencerminkan estetika arsitektur Dinasti Ming.

Namun ketika memasuki bagian dalam, nuansa Islam terasa begitu kuat. Pilar-pilar kayu dan dinding masjid dihiasi kaligrafi Arab yang memuat ayat-ayat suci Al-Qur’an. Di antara ukiran tersebut terdapat pula motif bunga dan pola geometris khas Tiongkok yang melambangkan kedamaian, keseimbangan, dan kemakmuran.

Perpaduan ini menjadikan Masjid Huashi sebagai contoh unik bagaimana Islam dapat beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi spiritualnya.

Balai ibadah utama masjid memiliki luas sekitar 1.000 meter persegi. Ruangannya dirancang terbuka tanpa banyak sekat sehingga mampu menampung hingga seribu jemaah sekaligus. Ketika waktu shalat tiba, terutama pada hari Jumat, ruangan ini dipenuhi oleh umat Muslim dari berbagai latar belakang mulai dari warga lokal hingga para pedagang dan pelajar dari berbagai negara.

Nama “Huashi” sendiri memiliki makna yang menarik. Secara harfiah, kata tersebut berarti “Pasar Bunga”. Nama ini merujuk pada sejarah kawasan sekitar masjid yang pada masa lampau dikenal sebagai pusat perdagangan bunga di Beijing.

Keberadaan masjid di tengah kawasan perdagangan ini menunjukkan bahwa komunitas Muslim sejak dahulu memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi kota. Para pedagang Muslim menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial dan penguatan ukhuwah.

Hingga kini, Masjid Huashi tetap menjadi pusat kehidupan umat Muslim di Beijing. Setiap pekan, ratusan jemaah datang untuk melaksanakan shalat Jumat. Pada bulan Ramadan, suasana masjid menjadi lebih hidup dengan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, buka puasa bersama, hingga shalat tarawih.

Pada hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha, halaman masjid dipenuhi jemaah yang datang dari berbagai penjuru kota. Suasana kebersamaan dan kekhusyukan ibadah menjadi gambaran nyata bahwa Islam tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat Tiongkok modern.

Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Masjid Huashi yang beralamat di Xihuashi Street, Chongwen District,  nomor 30, Beijing ini adalah bukti bahwa nilai-nilai Islam mampu berdampingan dengan budaya lokal tanpa kehilangan identitasnya. Ia menjadi saksi bahwa dakwah Islam di Tiongkok telah berlangsung sejak berabad-abad lalu, menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat.

Di tengah kota metropolitan yang terus berkembang, Masjid Huashi tetap menghadirkan ruang ketenangan. Dari bangunan tua inilah gema azan dan doa-doa para jemaah terus mengalir, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan umat Islam di Beijing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *