Pemuda Gereja: Tembok Besar Penjaga Demokrasi dan Suara Moral Bangsa

Ketua Umum Pemuda Toraja Indonesia, Ayub Manuel Pongrekun.

WaraNews.id — Demokrasi bukan sekadar prosedur teknis di bilik suara, ia adalah sebuah ruang partisipasi yang hidup dan harus dirawat dengan penuh tanggung jawab. Dalam setiap momentum Pemilihan Umum (Pemilu), tantangan yang muncul sering kali bukan hanya soal siapa yang menang, melainkan sejauh mana kualitas prosesnya tetap terjaga. Di titik inilah, pemuda gereja dipanggil untuk mengambil peran strategis bukan sebagai penonton pasif, melainkan sebagai penjaga gawang integritas demokrasi.

Ketua Umum Pemuda Toraja Indonesia (PTI), Ayub Manuel Pongrekun, menegaskan bahwa keterlibatan pemuda gereja adalah sebuah tanggung jawab moral. Sebagai bagian integral dari anak bangsa, generasi muda gereja memiliki mandat ganda, tanggung jawab kewarganegaraan dan panggilan iman untuk menegakkan kebenaran serta keadilan.

Menjadi “Tembok Besar” di Tengah Polarisasi

Di tengah euforia politik yang kerap diwarnai oleh sentimen identitas dan risiko polarisasi, pemuda gereja harus mampu tampil sebagai “tembok besar”. Peran ini krusial untuk membentengi masyarakat dari dinamika politik yang destruktif.

– Partisipasi aktif yang diharapkan bukan sekadar memberikan hak suara, tetapi juga mencakup:

– Penggerak Kesadaran Publik: Mengajak warga jemaat untuk terlibat dalam setiap tahapan demokrasi secara bertanggung jawab.

– Literasi Politik: Memperluas pendidikan politik di lingkungan masing-masing guna menciptakan pemilih yang cerdas dan kritis.

– Vanguard Integritas: Menjadi teladan dalam menolak praktik politik uang, penyebaran hoaks, dan segala bentuk kecurangan yang mencederai martabat pemilu.

Gereja sebagai Ruang Edukasi Etis

Ayub, yang memiliki rekam jejak panjang sebagai mantan Ketua Umum GMKI 2014–2016, melihat bahwa gereja memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran politik yang etis. Mimbar gereja dan forum kepemudaan adalah sarana efektif untuk menyuarakan pesan moral demokrasi.

Pendidikan politik yang dilakukan secara berkelanjutan akan melahirkan kader-kader yang mampu berpikir kritis tanpa terjebak dalam fanatisme sempit atau sikap ekstrem. Dengan menjaga netralitas dan independensi, pemuda gereja dapat menjadi “suara menyejukkan” di tengah panasnya kompetisi politik.

Demokrasi dan Panggilan Iman

Menjaga kualitas demokrasi bukanlah tugas eksklusif penyelenggara pemilu atau aparat negara semata. Ini adalah kerja kolektif. Tanpa keterlibatan pemuda yang membawa energi pembaruan, demokrasi berisiko kehilangan arah dan terjebak dalam kepentingan pragmatis.

“Pemuda gereja mesti peduli pada proses demokrasi yang damai dan berintegritas. Itu bukan hanya tanggung jawab sebagai warga negara, tetapi juga bagian dari panggilan iman.” Ayub Manuel Pongrekun.

Pada akhirnya, keterlibatan pemuda gereja dalam politik praktis maupun pengawasan demokrasi adalah investasi bagi masa depan bangsa. Dengan semangat persatuan dan integritas, mereka adalah agen perubahan yang memastikan bahwa demokrasi Indonesia tidak hanya berjalan secara prosedural, tetapi juga substansial dan bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *