Mahasiswa KKN-T Unhas Sosialisasikan Pestisida Nabati dari Bawang Putih

Staf desa, masyarakat, dan mahasiswa KKN-T Inovasi Daerah Gelombang 115 Universitas Hasanuddin berfoto bersama usai pelaksanaan program pemanfaatan bawang putih sebagai pestisida nabati di Kantor Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Senin (19/1/2026).

WaraNews.id — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi Daerah Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 115 memperkenalkan alternatif pertanian ramah lingkungan kepada masyarakat Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu. Melalui program ini, mahasiswa mendorong petani mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia sintetis yang dinilai berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan.

Sosialisasi tersebut dilaksanakan pada Senin, 19 Januari 2026, oleh Erwin Paserang, mahasiswa Program Studi Agribisnis Unhas yang juga bertindak sebagai penanggung jawab program. Ia memaparkan inovasi bertajuk Pemanfaatan Bawang Putih sebagai Pestisida Nabati dalam Pengendalian Hama yang Ramah Lingkungan pada Tanaman Cabai.

Erwin menjelaskan, penggunaan pestisida kimia secara berlebihan selama ini telah menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan pertanian di Desa Buae. Residu bahan kimia tidak hanya berpotensi membahayakan kesehatan petani dan konsumen, tetapi juga mencemari tanah serta sumber air dalam jangka panjang.

“Peralihan ke bahan organik menjadi solusi yang lebih aman dan berkelanjutan bagi petani,” ujarnya.

Menurut Erwin, bawang putih memiliki kandungan senyawa aktif berupa alisin dan sulfur yang berfungsi sebagai penolak alami hama. Senyawa tersebut bekerja melalui aroma tajam yang mampu mengusir serangga, menghambat perkembangbiakan hama, serta menekan pertumbuhan bakteri patogen penyebab penyakit tanaman cabai.

Dalam pemaparannya, Erwin juga menjelaskan tahapan pembuatan pestisida nabati tersebut. Prosesnya dimulai dengan menghaluskan bawang putih, kemudian mencampurkannya dengan sekitar 200 mililiter air bersih. Larutan tersebut didiamkan selama 24 jam dalam wadah tertutup agar zat aktif terekstraksi secara optimal. Setelah disaring, cairan diencerkan kembali dengan satu liter air dan ditambahkan sedikit sabun cair sebagai perekat sebelum diaplikasikan ke tanaman.

Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif. Salah satu staf desa, Hasniar, mempertanyakan daya tahan pestisida nabati tersebut. Menanggapi hal itu, Erwin menyampaikan bahwa karena tidak menggunakan bahan pengawet, pestisida organik cenderung cepat rusak jika disimpan terlalu lama. Oleh sebab itu, petani disarankan membuat larutan secukupnya untuk langsung digunakan.

Pestisida nabati dari bawang putih ini ditujukan untuk mengendalikan hama seperti kutu daun, thrips, dan tungau yang kerap menyerang tanaman cabai warga. Meski efek kerjanya relatif lebih lambat dibanding pestisida kimia, Erwin menilai manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar karena biayanya murah, aman bagi lingkungan, dan tidak menimbulkan resistensi hama.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-T Unhas berharap masyarakat Desa Buae mulai menerapkan praktik pertanian hijau sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi desa. (Karya: Mahasiswa KKN-T Unhas Gelombang 115)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *