Imlek 2026: Menilik Sejarah Monster Nian hingga Rekor 9,5 Miliar Perjalanan Mudik di Tahun Kuda

Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili menandai dimulainya Tahun Kuda Api (istimewa).

WaraNews.id — Miliaran warga keturunan Tionghoa di seluruh dunia tengah bersiap menyambut pergantian Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026. Tahun ini menandai peralihan shio dari Tahun Ular menuju Tahun Kuda Api, sebuah siklus yang dipercaya membawa energi perubahan besar, kemandirian, dan kecepatan.

Suasana kemeriahan telah menyelimuti berbagai kota besar. Dekorasi bertema kuda menghiasi pusat perbelanjaan, sementara papan reklame digital di jalan-jalan protokol dipenuhi ucapan selamat. Di dunia maya, gelombang ucapan meriah melalui emoji kuda dan tradisi angpao digital mulai membanjiri layar ponsel warga.

Tahun Baru Imlek bukan sekadar pergantian kalender, melainkan tradisi yang telah mengakar sejak abad ke-14 SM pada masa Dinasti Shang. Mitologi Tionghoa mencatat perayaan ini lahir dari kemenangan penduduk desa melawan monster bernama Nian.

Legenda menyebutkan bahwa Nian kerap meneror warga setiap hari pertama tahun baru. Namun, warga berhasil menemukan kelemahan sang monster: ketakutan terhadap suara keras, cahaya terang, dan warna merah. Tradisi menyalakan petasan dan menggantung lentera merah pun lestari hingga kini sebagai simbol pengusir bala dan penyambutan keberuntungan.

Tahun 2026 yang dikuasai elemen Kuda Api dianggap sebagai kombinasi yang sangat kuat. Api Yang melambangkan gairah dan aktivitas, sementara Kuda merepresentasikan tindakan nyata. Dalam budaya korporat di China, elemen ini kerap dikaitkan dengan narasi kesuksesan cepat dan momentum kepemimpinan.

Dr. Christian Yao, dosen senior di Victoria University of Wellington, menyebut bahwa simbolisme kuda akan menjadi alat “tata kelola lunak” di lingkungan kerja.

“Bahasa proaktif seperti ‘kesuksesan luar biasa’ atau ‘memimpin di depan’ akan banyak muncul dalam pidato dan email kantor. Perusahaan mendorong karyawan untuk mencerminkan ciri khas Kuda Api yang cepat dan gesit,” ungkap Dr. Yao yang dikutip dari berita BBC.

Namun, di balik jargon kesuksesan tersebut, muncul fenomena menarik di kalangan pekerja muda. Banyak dari mereka menggunakan istilah “Niuma” (secara harfiah berarti kuda-lembu) untuk menggambarkan diri mereka sebagai pekerja yang kelelahan dan dipaksa bekerja melampaui batas.

Menurut Dr. Yao, fenomena ini menangkap ketegangan sosial yang nyata di China saat ini. Ada kontras tajam antara narasi publik yang membangkitkan semangat dengan realita pribadi yang penuh kelelahan dan ketidakberdayaan.

Di sisi lain, tradisi “mudik” atau reuni keluarga tetap menjadi inti dari perayaan ini. Tahun ini, pemerintah China memperkirakan akan terjadi sekitar 9,5 miliar perjalanan lintas wilayah sebuah fenomena yang kerap dijuluki sebagai migrasi manusia terbesar di bumi.

Meskipun Kuda melambangkan efisiensi dan pergerakan cepat, realita di lapangan seringkali berkata sebaliknya bagi para pemudik. Perebutan tiket transportasi, lonjakan biaya perjalanan, hingga jam kerja ekstra bagi pekerja industri jasa menjadi tantangan tahunan yang harus dihadapi demi sebuah momen reuni keluarga.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *