Healthier Smiles Fase 7 Ditutup di Luwu Timur, Edukasi Kesehatan Gigi Anak Jadi Sorotan

WaraNews.id — Program peningkatan kesehatan gigi dan mulut anak, Healthier Smiles, menutup fase ketujuh pelaksanaannya di Kabupaten Luwu Timur. Kegiatan penutupan yang berlangsung di Aula Wisma Trans Malili, Jumat (13/03/2026), tak sekadar seremonial, tetapi menjadi ruang evaluasi atas dampak program yang selama ini menyasar anak-anak usia sekolah.

Program yang dijalankan Save the Children Indonesia bersama Yayasan Celosia Merennu Indonesia dengan dukungan Mars Wrigley Foundation ini berfokus pada perubahan kebiasaan dasar anak, terutama dalam menjaga kebersihan gigi sejak dini.

Sejumlah pihak yang terlibat, mulai dari pemerintah daerah hingga sekolah, mengakui bahwa persoalan kesehatan gigi anak masih kerap dianggap sepele, padahal berdampak langsung pada kesehatan secara umum. Karena itu, program seperti ini dinilai penting untuk membangun kesadaran sejak usia dini.

Staf Ahli Ekonomi dan Keuangan, Indra Fawzy, yang mewakili Bupati Luwu Timur, menekankan bahwa kesehatan gigi tidak bisa dipisahkan dari kualitas hidup anak secara keseluruhan. Ia menyebut kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi rutin menjadi fondasi penting bagi kesehatan jangka panjang.

“Kesehatan gigi bukan sekadar soal kebersihan, tetapi berpengaruh pada kesehatan secara menyeluruh. Senyum sehat anak hari ini mencerminkan masa depan yang sedang dibangun,” ujarnya.

Dari sisi layanan pemerintah, Sekretaris Dinas Kesehatan Luwu Timur, Helmy Kahar, menyebut program ini berjalan seiring dengan kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang sudah lebih dulu dilakukan melalui puskesmas.

Dalam program tersebut, tenaga kesehatan rutin turun ke sekolah untuk melakukan pemeriksaan sekaligus edukasi kepada siswa. Namun, keterbatasan jangkauan dan kebiasaan di rumah menjadi tantangan tersendiri yang membuat intervensi seperti Healthier Smiles tetap dibutuhkan.

Sementara itu, perwakilan program, Robert Nufninu, menilai perubahan perilaku menjadi kunci utama keberhasilan program. Ia berharap kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi secara teratur tidak berhenti saat program selesai, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari anak.

Penutupan fase ketujuh ini sekaligus memperlihatkan bahwa upaya meningkatkan kesehatan anak tidak cukup hanya mengandalkan layanan medis, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku yang konsisten, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *