WaraNews.id — Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat awal peradaban manusia dunia. Sebuah lukisan cadas berupa cap tangan manusia yang ditemukan di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, diperkirakan berusia setidaknya 67.800 tahun dan kini dinyatakan sebagai lukisan purba tertua di dunia.
Temuan ini terungkap melalui riset kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University, Australia, yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature pada Kamis (22/1).
Lukisan cap tangan tersebut melampaui rekor sebelumnya yang juga berasal dari Indonesia, yakni lukisan cadas di Karampuang, Maros, Sulawesi Selatan, yang berusia sekitar 51.200 tahun. Artinya, wilayah Nusantara kembali mencatat tonggak penting dalam sejarah seni dan budaya manusia purba.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan temuan ini menunjukkan bahwa ekspresi seni dan kebudayaan manusia telah berkembang sangat maju di Indonesia sejak puluhan ribu tahun lalu, bahkan lebih tua dibandingkan situs-situs seni cadas terkenal di Eropa dan Afrika.
“Kalau dibandingkan, lukisan di Lascaux, Prancis, usianya sekitar 17 ribu tahun. Di Eropa ada yang 40 ribu tahun. Tapi di Indonesia kini ditemukan yang berusia hampir 68 ribu tahun,” ujarnya.
Selain faktor usia, lukisan cap tangan di Leang Metanduno juga memiliki keunikan tersendiri. Bentuk jari tangan tampak diruncingkan, menandakan adanya unsur kreativitas dan kesengajaan artistik dari pembuatnya.
“Ini bukan sekadar cap tangan biasa. Ada upaya membentuk jari-jari menjadi runcing. Itu yang membedakannya dengan lukisan cadas lain,” jelas Fadli.
Sementara itu, Peneliti Gambar Cadas BRIN, Adhi Agus Oktaviana, menilai temuan ini mengubah pandangan lama tentang awal kemunculan seni di Indonesia. Selama ini, seni cadas kerap dikaitkan dengan penutur Austronesia sekitar 4.000 tahun lalu.
“Faktanya, seni ini dibuat oleh Homo sapiens awal, manusia modern yang datang jauh lebih awal ke Nusantara, kemungkinan kelompok yang juga menjadi leluhur masyarakat Papua dan Aborigin,” ungkap Adhi.
Ia menjelaskan, temuan ini sekaligus menjadi bukti tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi menuju Sahul (Australia–Papua), sekitar 65.000 tahun lalu. Jalur tersebut melibatkan perjalanan laut yang panjang dan menantang, khususnya di wilayah antara Kalimantan dan Papua yang masih minim penelitian arkeologis.
Penemuan di Leang Metanduno tidak hanya menambah catatan ilmiah dunia, tetapi juga menegaskan bahwa wilayah Indonesia memainkan peran penting dalam sejarah awal manusia dan perkembangan seni tertua di planet ini.











