WaraNews.id — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk menghentikan impor solar mulai tahun 2026. Kebijakan ini sejalan dengan target penguatan ketahanan energi nasional berbasis produksi dalam negeri.
Menurut Bahlil, penghentian impor solar sangat bergantung pada mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Kilang tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar minyak, khususnya solar, sehingga kebutuhan nasional dapat dipenuhi tanpa bergantung pada pasokan luar negeri.
“Agenda kami pada 2026 itu tidak ada impor solar lagi,” ujar Bahlil, Minggu (28/12). Ia menegaskan, jika RDMP Balikpapan telah beroperasi optimal, maka impor tidak lagi diperlukan.
Namun demikian, Bahlil membuka peluang adanya impor terbatas apabila terjadi keterlambatan kesiapan produksi di awal tahun. Ia menyebutkan, keputusan tersebut akan sangat bergantung pada kesiapan operasional Pertamina serta kondisi pasokan nasional.
“Kalau memang kita belum siap dan kebutuhan mendesak, ya kita harus jaga agar tidak terjadi kekosongan. Tapi kalau tidak perlu impor, untuk apa impor,” katanya.
Selain soal pasokan, pemerintah juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas BBM solar. Bahlil memastikan upaya perbaikan mutu akan terus dilakukan seiring peningkatan kapasitas kilang dalam negeri.
“Upayanya ke arah sana, dan itu terus kita dorong,” ujarnya.
Sebelumnya, Bahlil juga telah melaporkan rencana penghentian impor solar tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menyampaikan bahwa beroperasinya RDMP Balikpapan menjadi kunci utama dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
Tak hanya mengandalkan kilang, pemerintah juga mendorong penguatan program bahan bakar nabati melalui kebijakan biodiesel B50. Kombinasi antara produksi solar dari RDMP dan implementasi B50 diperkirakan tidak hanya mencukupi kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi menciptakan kelebihan pasokan.
“Kalau ini berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin kita justru punya peluang ekspor solar ke depan,” kata Bahlil.











